Luncurkan KPR Kendali, OCBC NISP Targetkan KPR Rp12 Triliun

Big Banner

JAKARTA, jktproperty.com – Bank OCBC NISP resmi meluncurkan produk kredit pemilikan rumah (KPR) Kendali. Produk fasilitas kredit properti ini di bundling rekening tabungan nasabah. Bank ini menargetkan pertumbuhan KPR-nya sekitar 12%-13% tahun ini menjadi Rp12 triliun.

Secured Loan Division Head Bank OCBC NISP, Veronika Susanti mengatakan, dengan skema KPR Kendali, 80% saldo akhir tabungan nasabah dapat diperhitungkan untuk meringankan bunga kredit. “Jadi, semakin besar saldo tabungan, semakin ringan bunga kredit yang dibayarkan oleh nasabah. Ini juga sekaligus mengurangi jangka waktu KPR,” katanya saat peluncuran KPR Kendali di Kantor OCBC NISP, Kuningan, Jakarta, Senin (22/2).

Dia mengatakan produk KPR terbaru Bank OCBC NISP memiliki beberapa keunggulan seperti bunga kredit harian dipengaruhi saldo akhir hari tabungan, dan pinjaman lebih cepat karena porsi pokok angsuran menjadi lebih besar. “Dan dan tabungan nasabah tidak di-hold. Artinya, tetap bebas tarik tunai di berbagai jaringan ATM serta bebas transaksi melalui mobile banking, internet banking, dan SMS banking,” katanya.

Fasilitas KPR Kendali NISP dapat digunakan untuk pembiayaan pembelian rumah, apartemen, tanah, kios, dan ruko/rukan. Produk ini juga dapat digunakan untuk keperluan refinancing atau kredit multiguna. Adapun jangka waktu fasilitas kredit maksimal 25 tahun, pembiayaan apartemen dan ruko/rukan 20 tahun, vila/kondotel/kios 15 tahun, serta pembiayaan tanah 10 tahun dan refinancing atau multiguna 15 tahun.

Peluncuran hari ini, produk KPR Kendali baru bisa diakses di wilayah Jabodetabek. Rencananya, produk tersebut akan berlaku nasional pada Maret mendatang.

Mengenai target KPR Kendali, dia mengatakan tahun ini diharapkan KPR Bank OCBC NISP naik 12%-13% atau menjadi Rp12 triliun. Veronika optimistis target tersebut dapat tercapai, karena perekonomian secara umum memperlihatkan perbaikan. “Tahun lalu saja, outstanding KPR kami senilai Rp 11 triliun.”

Terkait penurunan BI Rate menjadi 7%, Veronika mengatakan, masih akan melihat dinamika perkembangan aktual. Pasalnya, selain harus mempertimbangkan suku bunga pasar yang berlaku, juga cost of fund, dan biaya operasional. “Suku bungan KPR sangat sensifit terhadap perubahan BI Rate. Semoga perubahan ini akan terus berlanjut sehingga dapat diantisipasi pasar yang pada gilirannya gairah bisnis properti kembali pulih,” katanya. (PIT)

jktproperty.com