Kota yang Tidak Dikelola Baik Tumbuhkan Massa Destruktif

Big Banner

JAKARTA, KOMPAS.com – Gaya hidup di desa dan kota berbeda berdasarkan tingkat anominitasnya. Artinya, penduduk di desa jauh lebih saling mengenal satu sama lain dibandingkan di kota.

Hal ini, menurut Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Filsafat Driyarkara Francisco Budi Hardiman, disebabkan aspek sosiologi.

Di kota pengenalan tidak mendalam tetapi melebar. Penduduknya memiliki banyak jaringan, tapi untuk mengenal lebih dalam agak sulit.

“Kecuali, kalau ada infrastruktur yang tepat dan memunginkan interaksi lebih mendalam,” ujar Francisco saat diskusi panel dengan tema “Kota Tanpa Kekerasan”, di Universitas Tarumanegara, Jakarta, Sabtu (20/2/2016).

Dia menjelaskan, ketika ada orang banyak yang dikumpulkan di suatu tempat dan berasal dari berbagai latar belakang yang berbeda, maka individu harus mengambil jarak tertentu. Seorang individu melakukan ini untuk menghindarkan perasaan terancam sesamanya.

Berdasarkan anominitas di kota yang tinggi, kata dia, wajar dalam perencanaan tata kota menyediakan ruang-ruang kelompok. Selain itu, dengan pembentukan kelompok-kelompok kecil, anominitas itu bisa dihindarkan.

Pasalnya, semakin besar dan cepat pertumbuhan kota, semakin tinggi juga tingkat anominitas di dalamnya.

Francisco juga menuturkan, dalam kehidupan penduduk di suatu wilayah baik itu desa atau kota, ada gaya hidup yang berbeda berdasarkan tujuannya. Hidup yang sebetulnya dituju adalah kehidupan yang layak atau disebut sebagai good life.

“Dalam good life, penduduk hidup dalam komunitas, saling mengenal, dan tidak keras satu sama lain,” jelas Francisco.

Ia menambahkan, dalam good life, penduduk juga memiliki identitas bersama. Dalam hal ini, penduduk suatu wilayah bisa menyebut diri sebagai “kami”, bukan lagi “saya” atau “kamu”.

Selain itu, dalam good life juga ada keutamaan publik, di mana keadaban publik tumbuh di dalam kota itu. Berkebalikan dengan good life, lanjut Francisco, terdapat bare life. Istilah ini merujuk pada hidup belaka.

“Kalau bahasa canggihnya, darwinisme, siapa yang kuat dia yang menang. Artinya hidup telanjang, tidak ada keutamaan. Dengan sistem kompetisi, siapa yang kuat, dia bertahan,” tutur Francisco.

Dalam proses perkembangan kota yang tidak dikelola baik, tambah dia, akan terjadi deformasi, desosialisasi dan deindividualisasi.

Hal ini bisa berujung menjadi sangat ekstrim, seperti massa yang mudah sekali digerakkan untuk kerusuhan, demonstrasi yang anarkis dan kerusakan lainnya.

properti.kompas.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me