Lahan Rumah Menengah Semakin Menciut

Big Banner

TANGERANG SELATAN, KOMPAS.com – Luas lahan rumah kelas menengah semakin lama kian menciut. Jika dulu rumah dengan dimensi bangunan 36 meter persegi dibangun di atas lahan 90 meter persegi atau paling kecil 72 meter persegi, kini konsumen harus puas mendapat penawaran rumah dengan lahan lebih sempit.

Tingginya harga lahan ditengarai sebagai penyebab semakin menciutnya luas lahan yang ditawarkan pengembang kepada konsumen dalam satu produk properti. 

Produk terbaru Sinarmas Land Group bertajuk Anarta House di Vanya Park, BSD City, Tangerang Selatan (Tangsel), contohnya.

Luas bangunan yang ditawarkan 89 meter persegi, sementara luas lahannya hanya 34 meter persegi. Harga yang dipatok mulai dari Rp 900 juta per unit.

Demikian halnya klaster Sierra di Paradise Serpong City, Jl Puspitek, Serpong, Tangsel. Luas bangunan terkecil 32 meter persegi dan terbesar 55 meter persegi, luas tanahnya cuma 50 meter persegi. Harganya mulai dari Rp 488 juta hingga Rp 700 juta. (Baca: Kelas Menengah, Pasar Rumah Paling Seksi)

Menurut Prinsipal Li Realty, Ali Hanafia, melambungnya harga lahan di kawasan Tangsel, dipicu tingginya permintaan akan hunian, dan properti komersial. Pertumbuhan harga lahan di kawasan ini dia nilai sudah tidak dapat dikendalikan karena sangat bergantung pada mekanisme pasar.

“Pertumbuhannya melebihi harga lahan di kawasan-kawasan tertentu Jakarta,” kata Ali.

Harga lahan komersial di Jalan Raya Serpong dan Jalan Pahlawan Seribu saat ini sudah mencapai kisaran Rp 10 juta hingga Rp 25 juta per meter persegi.

Jauh lebih tinggi ketimbang harga lahan di kawasan Pulogebang, Jakarta Timur yang masih sekitar Rp 10 juta-Rp 15 juta per meter persegi.

Sementara di koridor Puspitek, harga lahan sudah menyentuh level Rp 7 juta hingga Rp 8 juta per meter persegi.

Namun, menurut Komisaris Progress Group, Derice Sumantri, produk rumah seluas 32/50 dan 55/50 tersebut merupakan inovasi yang dapat memenuhi kebutuhan first time home buyer atau pembeli rumah pertama.

“Mereka merupakan pasangan dan keluarga muda atau kelas menengah yang memang membutuhkan rumah dengan bangunan, dan lahan seluas itu. Sesuai dengan daya beli mereka,” tutur Derice kepada Kompas.com, Kamis (25/2/2016).

Terbukti menjelang peluncuran resmi pada 5 Maret 2016 mendatang, nomor urut pemesanan (NUP) untuk klaster Sierra sudah mencapai 160 persen. Diperkirakan angka tersebut akan tumbuh menjadi 200 persen karena antusiasme pembeli rumah pertama.

Klaster Sierra, lanjut Derice, dirancang bagi mereka yang ingin memiliki hunian di Serpong namun dengan harga terjangkau. Karena lahan kian terbatas, sehingga konsep hunian yang ditawarkan juga banyak berubah, yakni tidak memakan lahan luas.

“Dalam dua hingga tiga tahun ke depan, kami tidak lagi menawarkan rumah bertanah seharga di bawah Rp 1 miliar. Kami akan fokus membangun hunian vertikal,” tuntas Derice.

properti.kompas.com