Terapkan “Smart City”, Perilaku Tradisional Masyarakat Perlu Diubah

Big Banner

JAKARTA, KOMPAS.com – Penerapan smart city atau Kota Cerdas di Indonesia masih agak sulit mengingat kultur budaya kota-kota di Indonesia berbeda dengan kota-kota lain di Eropa atau Amerika.

“Sebenarnya kalau kota-kota di Indonesia tumbuhnya beda dengan kota-kota di negara-negara industri. Kota-kota kita memang tumbuhnya dari kampung yang kemudian orangnya hidup tetap secara tradisional,” kata pengamat perencanaan pembangunan nasional, Syahrial Loetan, di Jakarta, Kamis (25/2/2016).

Namun sekarang, mantan Sekretaris Utama Badan Perencanaan Nasional (Bappenas) itu melanjutkan, pemerintah kota atau pemerintah daerah mulai sadar untuk membuat kota-kota kompetitif yang sama dengan kota-kota di luar negeri.

Konsep smart city, di mata Syahrial adalah kota dengan tingkat efisiensi tinggi. Untuk membuat Kota Cerdas, banyak tantangan yang mesti dihadapi, salah satunya adalah mengubah perilaku masyarakat.

“Kita harus ajak ngomong orangnya, harus mendidik orang-orang yang biasa tinggal di kampung jadi tinggal di kota, yang nggak terbiasa pakai air bersih, pakai jembatan penyebrangan, naik eskalator. Nah itu kan perlu perubahan perilaku dengan cara diberikan pengetahuan, bisa dengan cara formal dan informal,” tambahnya.

Agar lebih cepat, Syahrial menambahkan pemberian pengetahuan guna mengubah perilaku tersebut harus menggunakan kombinasi antara cara formal dan non-formal.

Peran pemerintah dalam hal tersebut menjadi vital karena tanpa pemerintah perubahan perilaku tersebut akan berlangsung secara alamiah dan cenderung lama serta amburadul pada akhirnya.

“Konsep Kota Cerdas bukan hanya sekadar teknologi infomrasi baru atau canggih tapi nomor satu itu ya manusianya yang mesti diubah,” tandas Syahrial.

properti.kompas.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me