Kecelakaan Kerja Harus Dicegah, Kenapa Tunggu Musibah?

Big Banner

KOMPAS.com – Hari itu, Kamis (10/12/2015), Rio seharusnya bersantai di rumah bersama keluarga menikmati cuti kerja. Namun, dia memutuskan masuk kantor sampai tengah hari untuk merapikan beberapa pekerjaan. Nahas, Rio meninggal dunia saat lift kantor yang ditumpanginya jatuh dari lantai tiga.

Kisah tersebut adalah peristiwa nyata. (Baca: Korban Lift Jatuh Ini Meninggalkan Anak Satu Tahun dan Istri yang Mengandung). Kasus kematian karena kecelakaan kerja pada 2015, berdasarkan data Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan, mencapai 105.182 kejadian dengan 2.375 peristiwa di antaranya memakan korban jiwa.

Padahal, kecelakaan kerja seharusnya bisa diantisipasi perusahaan dan para karyawan sejak dini. Hal ini penting agar tak ada lagi Rio-Rio lain yang menjadi korban. 

Prosedur

Tiap perusahaan biasanya memiliki prosedur operasional baku atau standard operational procedure (SOP). Sebagian besar prosedur itu disusun menjadi buku manual tebal yang lebih sering diletakkan saja di rak ketimbang dibaca.

Tak masalah bila SOP dibukukan sebagai pegangan pegawai terkait. Namun, supaya SOP benar-benar menjadi pegangan, lebih baik buat penjelasan yang lebih interaktif, mudah dimengerti, runut, dan sesuai kebutuhan karyawan.

Bagi petugas kebersihan, misalnya, cukup tempelkan satu lembar SOP di dinding ruangan, berisi prosedur urutan pembersihan. Karyawan bersangkutan tinggal diminta membiasakan diri untuk mengecek SOP tersebut sebelum bekerja.

Meski begitu, manusia biasanya belajar lebih cepat jika langsung mempraktikkan daripada hanya mendapatkan teori. Jadi, sebaiknya pengenalan SOP harus pula diterapkan langsung sejak masa orientasi kerja di bawah pengawasan supervisor.

Lalu, lakukan pula inspeksi terjadwal dalam beberapa periode waktu untuk melihat apakah karyawan sudah menjalankan SOP dengan baik. Intinya, SOP bukan hanya dibukukan, melainkan juga harus dibudayakan.

Fasilitas

Risiko kebakaran atau bencana lain bisa menimpa siapa pun tanpa pertanda. Daripada hanya khawatir akan ada musibah, lebih baik Anda menyiapkan fasilitas untuk melindungi seluruh aset kantor, terutama karyawan.

Alat pemadam kebakaran, contohnya, harus ada di tiap ruangan, benar-benar bisa dipakai dan dilengkapi keterangan tata cara penggunaan. Selain itu, gedung kantor juga harus punya fasilitas sistem hidran kebakaran yang terawat. Bahkan, ada baiknya menambahkan fire sprinkler system sepanjang plafon kantor.

Fasilitas lain yang wajib masuk daftar antisipasi musibah di dalam kantor adalah tangga darurat. Saat alat transportasi antar-lantai utama—seperti lift atau eskalator—tidak berfungsi, tangga inilah yang menjadi jalur evakuasi seluruh penghuni kantor.

Tak lupa, titik kumpul pun harus ada. Saat keadaan darurat, orang bisa cepat berkumpul di satu tempat aman sehingga memudahkan proses evakuasi.

Pada beberapa industri, sistem pengamanan kerja tambahan mungkin perlu disesuaikan dengan kebutuhan. Mesin-mesin pendukung proses produksi wajib dirancang dengan mempertimbangkan aspek keamanan penggunanya.

Tak hanya itu. Untuk karyawan di beberapa jenis usaha, semisal konstruksi bangunan atau pabrik, juga membutuhkan perlengkapan keselamatan diri. Contohnya, helm, jaket, sarung tangan, sepatu, dan pakaian khusus yang berfungsi melindungi mereka selama bekerja.

Terakhir, perlu diingat bahwa percuma ada fasilitas lengkap keselamatan tetapi tidak terawat. Karena itu, jadwal pemeliharaan peralatan mutlak masuk agenda untuk memastikannya bekerja maksimal mencegah maupun menyikapi kecelakaan kerja.

5R

Karyawan wajib sadar dan mawas diri saat bekerja. Banyak kecelakaan kerja terjadi akibat kelalaian manusia. Kebiasaan untuk bekerja secara teratur perlu dibudayakan. Sederhana saja, misalnya dengan mengaplikasikan prinsip 5R—singkatan dari rapi, resik, rawat, rajin, dan ringkas—di lingkungan kantor.

Area kerja yang rapi berarti semua barang tertata dan memiliki tempat tersendiri. Bayangkan jika ada tumpukan berkas tergeletak begitu saja di lorong kerja, bisa-bisa orang yang sedang melintas tersandung karena berkas menghalangi jalan.

Resik artinya area kerja bebas debu, kotoran, atau tumpahan air. Jangan sampai lantai basah membuat orang lain atau malah diri sendiri terpeleset. Atau, akibat area kerja kotor, bakteri berkembang biak di tempat kerja dan menyebarkan penyakit.

Prinsip rawat dan rajin juga penting. Semua karyawan harus bisa merawat fasilitas kantor dan kerajinan dalam bekerja perlu ditanamkan agar kualitas kerja terus meningkat.

Membudayakan tindakan inisiatif ketika menemui hal yang kira-kira membahayakan perlu menjadi kebiasaan sehari-hari. Misalnya, bila menemukan kulit pisang teronggok di lantai, biasakan untuk otomatis memungut dan membuangnya ke tempat sampah.

Terakhir, ringkas bisa dipraktikkan dengan memilah mana barang yang perlu disimpan di luar kantor, di gudang, atau bahkan dibuang. Terlebih lagi, industri tertentu memiliki banyak barang, bahan baku, atau mesin yang harus ditempatkan secara hati-hati.

Sebaiknya, barang dikategorikan dan diberi label atau penanda khusus sehingga mudah dicari. Apalagi, barang tersebut mengandung unsur berbahaya, misalnya, cairan yang mudah terbakar. Mesin tertentu juga perlu diberi keterangan agar pemakainya terhindar dari risiko berbahaya.

Keterangan itu sebaiknya tetap terbaca untuk jangka waktu lama, sekalipun peralatan ada di ruang yang lembab, terkena sinar matahari terus menerus, bergesekan dengan peralatan lain, atau terpapar zat kimia. Label berlaminating PT-9700PC dari Brother, misalnya, bisa jadi pilihan bahkan untuk pemasangan di perusahaan industri berat.

Sebagai catatan, dari keseluruhan langkah antisipasi di atas, faktor kewaspadaan selama bekerja adalah kata kuncinya. Ingat, keluarga menunggu di rumah.

properti.kompas.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me