Meski Melorot Nomor 6 di Asia Pasifik, Jakarta Tetap Prospektif

Big Banner

JAKARTA, KOMPAS.com – Dua lembaga berpengaruh di dunia, Urban Land Institute (ULI) dan PriceWaterhouse Cooper dalam survey Emerging Trends in Real Estate Asia Pacific tahun 2016 menempatkan Jakarta di posisi ke-enam dari total 22 kota yang prospektif untuk investasi (City Investment Prospects) maupun pengembangan properti (City Development Prospects).

Kendati posisi ini merosot empat tingkat dari tahun lalu yang berada di peringkat dua terbaik se-Asia Pasifik, Jakarta jauh lebih unggul ketimbang 16 kota lainnya.

Ibu kota Indonesia ini masih berada di depan Seoul, Beijing, Hongkong, Singapura, New Delhi, Kuala Lumpur, Taipei, Auckland, Shanghai, dan Manila.

“Peringkat Jakarta bukan tidak mungkin akan kembali di urutan teratas seperti pencapaian posisi 1 dan 3 pada tahun 2013 dan 2014. Saat itu, sektor properti tengah berada di puncak (booming),” tutur Associate Director Research Colliers International Indonesia, Ferry Salanto, kepada Kompas.com, di kantor marketing BRANZ Simatupang, Jakarta, Minggu (28/2/2016).

Mengutip survey ULI dan PwC, Ferry menambahkan, Jakarta tetap menjadi fokus bagi banyak kelompok investor properti Asia Tenggara, khususnya bagi lembaga dan pengembang besar yang terintegrasi dan terafiliasi dengan Singapura, Hongkong, Jepang, dan bahkan China. 

Lebih baik

Karena itu, sektor properti tahun ini diprediksi bakal lebih baik ketimbang tahun 2015 dan 2014. Beberapa indikator yang mendukungnya menunjukkan perbaikan. 

Sebut saja pertumbuhan ekonomi yang sangat erat korelasinya dengan sektor properti, diyakini bakal berada pada level di atas lima hingga enam persen.

Demikian halnya dengan tingkat inflasi yang bisa dijaga pada kisaran 4 persen hingga lima persen, serta tingkat suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) yang terus menurun menjadi tujuh persen, serta nilai tukar Rupiah yang stabil pada posisi Rp 13.700 per 1 dollar AS.

Ferry memaparkan, indikator-indikator tersebut cukup membuat sektor properti bangkit kembali. Terlebih, para ekonom memperkirakan BI akan kembali menurunkan suku bunga acuan menjadi hanya 6,5 persen saja pada kuartal kedua 2016.  

“Suku bunga rendah hanya satu digit memang sangat diharapkan para pelaku usaha properti. Sementara stabilitas Rupiah dan inflasi sangat signifikan pengaruhnya terhadap kelangsungan pembangunan proyek properti,” papar Ferry.

Ketika itu semua terjadi, kata Ferry, permintaan properti akan meningkat dan kembali rebound untuk menuju tinggal landas. Saat itulah momentum yang tepat untuk membeli, investasi, dan membangun properti. 

properti.kompas.com