Co-working Space Jadi Bisnis Properti Modern

Big Banner

Bisnis.com, JAKARTA — Bisnis penyedia perkantoran atau yang kerap disebut virtual office dan kini berkembang menjadi co-working space berpotensi menjadi bisnis properti modern.

CEO Kolega Co-Working Space Rafi R. Hiramsyah mengatakan pada masa yang akan datang bisnis properti tidak hanya berbentuk aset, ada banyak produk salah satunya co-working space.

“Awal mula bisnis ini pada 1999 di Amerika Serikat. Bahkan saat ini perusahaan besar seperti Coca-cola menempatkan satu divisi di untuk bekerja di co-working space,” katanya saat ditemui sebelum peresmian Kolega Co-Working Space yang kedua di Jakarta, Senin (29/2).

Rafi menambahkan hal tersebut terjadi karena di Negara maju sudah menyadari bisnis startup yang banyak di jalani generasi masa kini memiliki energi positif yang harus diikuti para karyawan perusahaan besar. Kolega yang pertama, lanjutnya, berdiri sejak Agustus 2015 dengan latar belakang memfasilitasi dan memaksimalkan produktifitas para pekerja independen maupun wirausaha yang tidak terikat dengan kantor konvensional.

Menurutnya, dengan memilih menggunakan co-working space perusahaan akan menghemat banyak biaya daripada menyewa satu ruang kantor. Kolega memiliki dua kantor di Jalan Tebet Raya dengan biaya Rp1,3 juta dan di Jalan Suryo dengan biaya Rp2 juta setiap bulannya. Kolega menyediakan berbagai tipe ruang dari personal area hingga event area dengan berbagai fasilitas penunjang pekerjaan.

“Di Tebet dengan luas 120 m2 kita bisa menampung hingga 70 orang sedangkan di Jalan Suryo di atas lahan 300 m2 dapat menampung hingga 100 orang, ” ujar Rafi.

Mengenai nilai investasi Rafi hanya setengah bercanda mengatakan sama dengan seharga mobil toyota. Kolega tidak menyasar segmen tertentu.

“Tingkat okupansi di Tebet sudah mencapai 60%, di sini kami targetkan 50% dalam tiga bulan pertama ini.”

Sementara itu, secara global, tren perkantoran di dunia diperkirakan akan mulai bergeser dari model tradisional, Setidaknya ini tercermin dari survei yang pernah dilakukan PwC kepada 10.000 pekerja di dunia akhir tahun lalu. 

Survei bertajuk The Deatof The Office : PwC Future of Work report menunjukkan, di Inggris hanya 14 dari responden yang masih mau bekerja di kantor secara konvensional. “Di masa depan, kebiasaan pergi ke kantor jam 9 pulang jam 5 akan menjadi kenangan,” tulis PwC dalam laporan tersebut. 

Survei PwC itu menunjukkan, 1 dari 5 responden ingin bekerja secara virtual di mana mereka bisa bekerja di manapun lewat dukungan teknologi. 

properti.bisnis.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me