Baca Ini Sebelum Manipulasi Gaji

Big Banner

JAKARTA – Banyak cara dilakukan orang demi mendapatkan rumah impian. Salah satu yang paling banyak dilakukan adalah memanipulasi atau mark-up gaji demi mendapatkan persetujuan saat mengajukan kredit perumahan (KPR) ke perbankan. Padahal, hal ini memiliki risiko besar bagi orang yang bersangkutan.

Direktur Eksekutif Indonesia Properti Watch (IPW) Ali Tranghanda mengakui, sejauh ini banyak konsumen yang mengelabui perbankan dengan menaikkan penghasilan. Ini dilakukan untuk mengejar rumah impian dengan harga selangit. “Ada risiko yang lebih besar ke depannya jika sebelumnya Anda melakukan mark-up gaji,” katanya.

Ali menjelaskan, salah satu risiko besar yaitu soal pergerakan bunga KPR yang cenderung naik. Dapat dipastikan hal ini akan membuat konsumen sulit mengontrol dananya dan mengakibatkan terjadinya kredit macet atau Non Performing Loan (NPL) di perbankan.

Pengamat properti ini juga menuturkan, sejauh ini perbankan akan menyetujui proses KPR untuk 1/3 dari penghasilan. Ini juga menjadi patokan perbankan untuk harga yang cocok dimiliki konsumen. “Bank akan menyetujui sepertiga jumlah pendapatan konsumen. Misalnya total dana itu Rp 6 juta, maka sekitar Rp 2 juta dan konsumen cocok dapat rumah Rp 200 jutaan,’ terang Ali seperti dikutip dari merdeka.com.

Jika ingin mengikuti KPR, lanjutnya, disarankan agar konsumen memiliki dana tambahan. Ini dilakukan demi mengantisipasi melonjaknya bunga KPR. “Namun itu tergantung konsumen, apakah memilih jenis bunga KPR fixed rate atau floating rate,” imbuhnya.

Secara umum, konsumen terkena NPL adalah mereka yang mengambil properti kelas menengah atau hunian dengan rata-rata harga Rp 500 juta hingga Rp 1 miliar. Mayoritas dari mereka adalah orang-orang yang memanipulasi dana yang dimiliki. “Harus hati-hati. Konsumen harus jujur dengan harga itu,” ujarnya.

infonitas.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me