Penjualan Secondary Properti Melambat

Big Banner

Info Properti – Di kawasan gading Serpong, dari awal tahun hingga masuk kuartal ketiga 2015, tren penjualan properti dapat dikatakan mengalami perlambatan. Stagnansi penjualan properti, disinyalir salah satunya disebabkan kebijakan Bank Indonesia yang mempertahankan suku bunga acuan di level 7,5 persen. Kondisi ekonomi yang lesu turut mengakibatkan harga  bahan bangunan naik dan berimbas pada melonjaknya harga properti baru. Tjong Gie Hok (Yogi), Principal Century21 Gading Serpong menilai, melambatnya penjualan properti terjadi di berbagai daerah. Tren ini berlaku untuk semua jenis properti, primary maupun secondary. Dari segi penjualan, properti secondary penurunannya tak separah primary. Koreksi pasar ada, tapi relatif lebih sedikit. “Penurunan tidak terlalu banyak untuk pasar secondary. Transaksi jual beli masih ada, hanya menurun sekitar 10 persen. Ini menjadi hal wajar. Meski terkoreksi, buyer masih punya daya beli,” terang Yogi. Meski melambat, penjualan masih terus berjalan, terutama di kalangan menengah. Properti secondary dinilai lebih cenderung dicari untuk kebutuhan rumah tinggal. Sementara properti primary kebanyakan diburu investor. Maka penurunan penjualan produk primary relatif besar. “Untuk primary saya melihat penurunannya cukup besar karena banyak investor wait and see.  Mereka cenderung menahan diri untuk berinvestasi,” papar Yogi. Lie Min, Ketua Asosiasi Real Estate Broker Indonesia (AREBI) DPD Banten memiliki pandangan sama. Menurutnya, tren penjualan properti agak melambat sejak awal tahun 2015, tetapi dalam jangka waktu lima hingga tujuh tahun ke depan akan kembali meningkat. Selain itu, ia berharap kebijakan pemerintah harus bisa mendukung pasar. “Hal ini merupakan siklus wajar yang terjadi dalam dunia properti. Untuk itu, para pelaku pasar harus banyak berinovasi agar pasar yang dibidik  tepat,” ungkapnya.  

infonitas.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me