Kelesuan Properti Akan Segera Berakhir

Big Banner

Info Brokerage – Di penghujung tahun 2015, tren properti masih cenderung melambat. Menurut Head of Research Badan riset dan konsultan Savills Indonesia Anton Sitorus, ini terjadi hampir di seluruh produk. Pasokan gedung perkantoran melambat, dan pembangunan mal dibatasi. Sementara, untuk kelas kondominium tergolong stagnan.

Kendati begitu, kata dia, kondisi ini bukanlah krisis properti seperti yang terjadi pada 2008. “Sekarang, proyek ada, penjualan juga ada, cuma slow. Catatan kami, 2012 harga properti mulai naik karena demand-nya banyak, 2014 cooling down karena terkait Pemilu. Namun, gonjang-ganjing ekonomi global, pengembalian dolar ke Amerika membuat emerging market (seperti Indonesia) goyang,” paparnya. 

Akibatnya, tren gedung perkantoran pun melambat. Demand yang semakin turun membuat pertumbuhan office tower melambat. Hanya saja, jika dilihat dari tingkat huniannya, perkantoran cenderung stabil, kecuali grade A yang terkena koreksi harga. “Sebelumnya, harga sewa perkantoran di Jakarta naik 30 persen sampai 40 persen, termasuk yang paling tinggi di ASIA, sejajar dengan Beijing. Tapi sekarang sudah turun lagi,” tegas Anton. 

Sejak masa peak pada 2013, pasokan kondominium turun terus dari tahun ke tahun. Mulai dari 12.500 unit pada 2013 menjadi 11.500 unit pada 2014, hingga hanya 6 ribu unit pada 2015. “Harga kondominium primary tidak terkena koreksi, tapi untuk secondary iya,” lanjutnya. 

Sementara untuk tren residensial, suku bunga BI (Bank Indonesia) yang naik menjadi 7,5 persen dari yang awalnya cuma 6,5 persen di tahun 2012-2013 membuat beban para pengambil KPR dan KPA merasa terlalu tinggi.

Namun, dia tetap optimistis, kelesuan sektor properti akan segera berakhir. Titik balik terjadi setidaknya pada semester 2 pada 2016. Pemerintah, kata Anton, sudah mau sedikit membuka jalan.

infonitas.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me