Kem-PUPR Dorong Pembangunan RISHA Di Daerah Perbatasan

Big Banner

Jakarta, mpi-update.  Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan  Rakyat (PUPR) melalui Direktorat Jenderal  Penyediaan Perumahan akan mendorong pembangunan Rumah Instan Sederhana Sehat (RISHA) di daerah-daerah perbatasan Indonesia. Dengan demikian, masyarakat yang tinggal di daerah perbatasan dapat menghuni rumah yang nyaman dan sehat serta memiliki struktur yang relatif lebih kuat.

“Rencananya tahun depan kami akan membangun sekitar 300 unit rumah dengan teknologi RISHA (Rumah Instan Sederhana Sehat-red) di daerah-daerah perbatasan Indonesia,” ujar Direktur Jenderal Penyediaan Perumahan Kementerian PUPR Syarif Burhanuddin kepada sejumlah wartawan di Jakarta beberapa waktu lalu.

Menurut Syarif Burhanuddin, melalui rilis yang diterima mpi-update.com  seiring Program Sejuta Rumah yang dicanangkan Presiden Joko Widodo, penyediaan hunian bagi warga Indonesia yang kini tinggal di daerah perbatasan serta pembangunan infrastruktur pendukungnya merupakan salah satu  fokus program Kementerian PUPR. Hal itu dilakukan agar mereka juga bisa memiliki rumah yang layak huni dan meningkatkan kesejahteraannya sehingga tidak kalah dengan warga di negara tetangga.

“Salah satu daerah perbatasan yang akan dibangunkan hunian dengan teknologi RISHA oleh Direktorat Jenderal Penyediaan Perumahan Kementerian PUPR adalah di daerah Alor, Nusa Tenggara Timur. Teknologi RISHA juga merupakan rumah tahan gempa sehingga sesuai dengan daerah tersebut yang memang rawan terhadap gempa,” tandasnya.

Teknologi RISHA, imbuh Syarif Burhanuddin, dikembangkan oleh Balitbang Kementerian PUPR dan memiliki beberapa keunggulan dalam proses pembangunannya. Selain memiliki struktur bangunan yang kuat dan tahan gempa, proses pembangunan RISHA yang relatif lebih cepat dan mudah diharapkan dapat meminimalisir biaya yang dikeluarkan.

Berdasarkan perhitunggan anggaran pembangunan RISHA yang sudah dilaksanakan oleh Balitbang beberapa waktu lalu, satu unit rumah tipe 33 diperkirakan hanya menghabiskan biaya sekitar Rp 47 juta diluar harga tanah. “Hasil pembangunan RISHA sudah menggunakan beton sehingga meminimalisir penggunaan kayu. Biaya yang dikeluarkan pun lebih hemat,” terangnya.

Meskipun demikian, imbuh Syarif, belum banyak sumber daya manusia (SDM) seperti para tukang serta pengembang perumahan yang mau mempelajari serta menggunakan teknologi RISHA dalam proses pembangunan rumah secara massal. Untuk itu, pihaknya akan terus memberikan dukungan kepada Balitbang Kementerian PUPR untuk lebih mensosialisasikan teknologi tersebut kepada masyarakat luas.

“Balitbang Kementerian PUPR tentunya juga akan memberikan pelatihan kepada SDM seperti para tukang  tentang bagaimana membangun rumah dengan teknologi RISHA ini. Saya juga berharap para pengembang bisa menggunakan RISHA untuk membangun rumah secara massal,” harapnya.

Menanggapi hal tersebut, Wakil Ketua Umum DPP REI Preadi mengungkapkan, asosiasi pengembang Real Estate Indonesia pada dasarnya memberikan dukungan pemerintah terhadap program pembangunan hunian bagi masyarakat di daerah perbatasan. Namun demikian, pihaknya juga memberikan apresiasi terhadap teknologi RISHA yang kini dikembangkan oleh Balitbang Kementerian PUPR.

“Di Indonesia memang ada zona gempa yang memerlukan bangunan yang tahan gempa seperti RISHA ini. Kami juga mengapresiasi pemerintah yang terus melakukan inovasi dalam pembangunan rumah ini,” katanya.

mpi-update.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me