Kota Bekasi “Dibanjiri” 29 Apartemen Baru

Big Banner

Jakarta, mpi-update. Di tengah laju pertumbuhan pembangunannya, dengan tingkat pertambahan penduduk 3,6% per tahun saat ini, kebutuhan perumahan di Bekasi semakin tinggi. Hunian vertikal menjadi salah satu solusi untuk mengimbangi tingginya kebutuhan itu dan terbatasnya lahan.

Demikian hal itu mengemuka dalam diskusi bertema ‘Potensi Hunian Vertikal Mendorong Pertumbuhan Kawasan Penyangga Jakarta’ yang digelar Forum Wartawan Perumahan Rakyat (FORWAPERA) di Hotel Horison, Bekasi, Rabu (18/11) Diskusi interaktif tersebut menghadirkan para pembicara mulai dari pemangku kepentingan di pemerintahan hingga pebisnis properti.

Kepala Dinas Tata Kota Pemerintah Kota Bekasi, Koswara mengatakan, dengan tingginya kebutuhan hunian saat ini. lahan diperuntukkan untuk hunian vertikal mencapai 9500-an hektar, sementara sisanya tinggal seluas 1700-an hektar lahan untuk perumahan (landed house).

“Dalam aturan tata ruang wilayah kami, ada wilayah-wilayah yang memang kami prioritaskan untuk vertikal dan untuk landed house. Untuk wilayah utara atau pusat kota kami arahkan untuk vertikal,” ujar Koswara.

Koswara mengakui, selama lima tahun belakangan ini pertumbuhan properti di Kota Bekasi melaju sangat cepat. Hal itu dibuktikan dengan sengitnya persaingan dari 29 proyek apartemen dan lebih dari 50 ribu proyek perumahan di kawasan itu.

Untuk itulah, lanjut Koswara, ia mensyaratkan para pengembang properti yang hendak membangun hunian di Kota Bekasi minimal memiliki lahan seluas 5000 m2. Selain itu, para pengembang wajib menyediakan 30% dari lahan tersebut untuk ruang terbuka hijau (RTH). “Syarat RTH 30% kami wajibkan untuk pengembang apartemen, sedangkan pengembang yang menggarap proyek terpadu kami wajibkan 20% RTH,” ucap Koswara.

Menanggapi hal itu, Head of Research PCI, Anton Sitorus, yang menjadi pembicara kedua mengatakan bahwa ke depan Pemkot Bekasi harus lebih fokus pada perencanaan tata kotanya. Menurutnya, pengembangan kota semestinya tidak semata untuk highrise, melainkan juga mendorong terbangunnya lowrise dan midrise.

“Perkembangan properti itu bukan cuma di Jakarta, tapi juga beberapa daerah lain di sekitarnya yang bisa mendorong kemajuan Jakarta itu sendiri. Terkait Bekasi, saya tak lihat banyak bedanya dengan kota lainnya (di Jabodetabek). Bahkan, secara infrastruktur, saya pikir Bekasi-lah yang paling diuntungkan,” kata Anton.

Untuk itulah, lanjut Anton, dia menyarankan kepada Pemerintah Kota Bekasi, agar perencanaan pembangunan highrise di kawasan penyangga harus lebih berhati-hati. “Ada efek sosial dari pembangunan high rise yang berlebihan, terutama akibat perencanaannya yang tidak benar, yang pada akhirnya membawa efek negatif yang juga jelek pada sektor ekonominya,” ujarnya.

Sementara itu, sebagai pembicara dari kalangan pebisnis properti, Corporate Secretary and Branding PT Langgeng Makmur Perkasa (LMP), Iwan Nur Iswan, mengatakan bahwa tata kelola Kota Bekasi saat ini semakin berkembang menjadi hub antara Jakarta dan kawasan industri besar, yaitu Cikarang. “Hub itu kota transit dan mestinya hidup. Sekarang ini Bekasi sudah menjadi hub yang strategis dan potensial. Itu alasan kami masuk ke Bekasi,” ujar Iswan yang saat ini tengah mengembangkan Wismaya Residence di kota Bekasi.

“Ada pengembangan kawasan, lalu ada pembangunan kawasan industri, maka harus ada pengembangan kawasan hunian. Itulah yang terjadi di Bekasi saat ini dan saya yakin sektor komersialnya juga pasti tumbuh,” kata Iswan.

Sebagai penutup, SVP Non Subsidized Mortgage and Consumer Lending Division PT Bank Tabungan Negara (BTN) Tbk, Suryanti Agusniar, mengakui bahwa ada 26 pengembang hunian vertikal yang proyeknya sedang dibiayai BTN di Bekasi, terutama di Cikarang. “80% itu kami yang biayai,” ujar Suryanti. YS

mpi-update.com