Kinerja PT DILD di Bawah CEO Hendro S Gondokusumo

Big Banner

Hendro Santoso Gondokusumo, CEO PT  PT Intiland Development, Tbk  (DILD) adalah satu  dari 11 CEO Inspiratif 2015 pilihan Majalah Properti Indonesia (MPI), yang diterbitkan pada edisi Desember 2015.  Disebutkan DILD merupakan salah satu perusahaan yang cukup sukses di bisnis properti Indonesia.

Hampir setiap proyek baru yang diluncurkan kerap mendapat sambutan yang positif di masyarakat. Hal ini dibukti kan dengan ekspansi bisnisnya yang terus menggurita dan portofolionya yang tersebar di nusantara.

Berbicara tentang kesuksesan Intiland tersebut, tentu saja tak terlepas dari sosok Hendro Gondokusomo, pendiri sekaligus Presiden Direktur Intiland. Pria kelahiran Malang, 65 tahun yang lalu ini, sukses membawa Intiland sebagai salah satu perusahaan properti yang tidak hanya mumpuni namun juga disegani. Maka wajar saja jika nama besar dan reputasi pengembang yang kini mulai merambah hospitality dan healthcare tersebut tidak dapat diragukan lagi.

Menariknya, di usia yang tak lagi muda, dinamika pekerjaan mantan Ketua Jakarta Property Club ini justru semakin produktif. Namun, hal itu bukan menjadi beban, sebaliknya tetap dilakukan dengan serius dan enjoy. “Mengalir seperti air,” ujar Hendro. Terbukti, ditengah pekerjaannya yang cukup padat, Hendro tetap aktif di organisasi, baik yang terafiliasi dengan bisnis seperti KADIN, Federasi Realestat Internasional (FIABCI), Asosiasi Realestat Indonesia (REI) maupun kegiatan sosial dengan menjadi anggota Pembina Philharmonic Society Universitas Katolik Atmajaya, Jakarta serta organisasi sosial suku-suku Tionghoa.

“Hari ini saya masih bisa melakukan berbagai aktivitas, itu dikarenakan saya memiliki staf yang baik-baik. Karena itu saya sangat bersyukur karena mereka mampu bekerja bersama- sama demi memba ngun perusahaan,” ujar pebisnis yang telah malang melintang selama 24 tahun di bidang properti.

Salah satu jasa terbesar Hendro dalam memimpin perusahaan adalah keberhasilannya meloloskan perusahaan itu dari kebangkrutan akibat krisis ekonomi 1997-1998. Pada masa krisis itu perusahaan mengalami tekanan keuangan yang sangat berat sebagai imbas dari krisis keuangan di Asia.

Selama kurang lebih 10 tahun, target manajemen hanya bertahan dan membereskan utang dengan berbagai upaya dan kerja keras. Yang menarik, pada saat itu, jajaran manajemen inti berkomitmen untuk tidak memberlakukan PHK (pemutusan hubungan kerja) kepada karyawan dan merelakan sebagian dari gaji mereka untuk “dipinjamkan” kepada perusahaan.

Baru setelah pada tahun 2007, perusahaan berhasil melakukan restrukturisasi atas seluruh utangnya, bersamaan dengan restrukturisasi keuangan dan bidang lainnya. Saat itu, Hendro melakukan restrukturisasi secara menyeluruh. Mulai dari bidang keuangan, pergantian nama menjadi Intiland Development, penajaman visi, misi dan nilai perusahaan sampai kepada transformasi strategi bisnis Intiland.

Pada tahun 2015, Intiland mengusung strategi dengan mengatur rencana pembiayaan secara berhati-hati sesuai dengan kebutuhan dan kebijakan Perseroan. Hal ini dikarenakan, perseroan melihat dalam lima tahun ke depan, resiko bisnis yang harus dihadapi masih tinggi. Di sisi lain faktor biaya produksi juga akan semakin meningkat akibat risiko penurunan nilai tukar mata uang.

Dengan tingkat resiko yang semakin tinggi tersebut, Intiland melakukan mitigasi atas resiko-resiko tersebut, termasuk melakukan optimalisasi biaya agar efisien dan efektif sehingga operasional Perseroan dapat berjalan baik. Dengan persiapan-persiapan ini maka Perseroan dapat membangun dasar yang kuat untuk mengembangkan diri secara pesat di masa mendatang.

Berdasarkan laporan keuangan kuartal III 2015, perseroan berhasil membukukan pendapatan sebesar Rp 1,57 triliun atau tumbuh 21,4% secara year on year (yoy) dari tahun sebelumnya sebesar Rp 1,29 triliun. Pendapatan ini sebagian besar berasal berasal dari penjualan pengembangan yang ter-catat sebesar Rp1,41 triliun, atau naik 22,6% dari periode yang sama tahun sebelumnya.

Sementara, pendapatan recurring income atau pendapatan berulang mencapai Rp163 miliar atau naik 16% (yoy) yang berasal dari perkantoran Rp93 miliar, sarana olahraga, Rp47 miliar, kawasan industri Rp21 miliar dan lain-lain sebesar Rp 1,4 miliar.

Ketika ditanya terkait agresifitas Intiland beberapa tahun terakhir yang agak melambat dibanding developer lain, Hendro memiliki alasan tersendiri. “Sebenarnya di properti itu tidak bisa dibilang agresif atau tidak, karena ada yang namanya think of building. Jadi kita lebih mengarah pada kualitas yang betulbetul kita jaga. Dimulai dari desain, konstruksi dan sebagainya.  Apalagi kalau high rise building. Makanya kita tidak main-main sebab merancang itu dibutuhkan waktu. Cuma setiap company memang punya prinsip masing-masing,” papar Hendro. (Riz) Versi digital dapat diakses melalui: http://www.getscoop.com/id/majalah/properti-indonesia atau melalui http://www.wayang.co.id/index.php/majalah/properti-indonesia

mpi-update.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me