Kinerja PT Alam Sutera, Tbk di Bawah CEO Purbaja Pantja

Big Banner

Purba Panta, adalah salah seorang dari 11 CEO inspiratif pilihan Majalah Properti Indonesia.  Dalam edisi Desember 2015 MPI menulis bahwa Purba Panta muda, cerdas, dan optimistik. Inilah kesan yang memancardari Purbaja Pantja, CEO Alam Sutera yang baru di tunjuk pada Februari 2015 lalu.

Purbaja sendiri sebelumnya dikenal sebagai investment banker asal Deutsche Bank, sebelum akhirnya memutuskan berlabuh ke Standard Chartered Bank (Stanchart). Masuknya Purbaja, bisa dibilang ibarat angin segar di lingkungan PT Alam Sutera, khususnya di tengah situasi perlambatan perekonomian global yang berdampak secara nasional.

Maklum, karir Purbaja sama sekali tidak berlatar belak ang properti. Tak hanya itu, bergabungnya Purbaja, juga diharapkan dapat mengatasi masalah utama yang dihadapi oleh Alam Sutera saat ini, yaitu overleveraged, atau terlalu tingginya tingkat utang dibanding total modal perusahaan.

Kondisi ini secara tidak langsung juga telah menekan harga saham Alam Sutera, dan menempatkannya sebagai saham dengan Price Earnings Ratio (harga saham dibandingkan dengan kemampuan perusahaan mencetak laba) terendah diantara raksasa properti lainnya.

Purbaja mengatakan, industri properti tahun ini dihadapkan padasejumlah tan tangan. Salah satunya adalah peraturan Bank Indonesia yang terkait dengan loan to value (LTV). Bisnis properti juga harus menghadapi tantangan lainnya terkait dengan wacana pajak barang mewah yang akan dikenakan kepada rumah dan apartemen.

Begitupun, hal tersebut tidak akan menjadi kendala bagi Alam Sutera. Di bawah kepemimpinannya, Alam Sutera mulai fokus pada sektor perumahan pasar kelas menengah yang menawarkan harga properti residensial di bawah Rp 2 miliar. Selain itu juga akan masuk ke proyek properti di sektor komersial dan high rise building.

“Ke depan, kami akan mendiversifikasi produk dengan komposisi sepertiga untuk perumahan, sepertiga untuk high rise building, dan sepertiga untuk komersial,” ujarnya.

Alam Sutera juga akan fokus juga terhadap penjualan lahan tahun ini. Maklum, perseroan dengan kode emiten ASRI ini masih memiliki cadangan lahan yang cukup luas. “Kami masih memiliki lahan yang jumlahnya sudah cukup besar. Untuk itu kami akan fokus juga untuk melakukan penjualan lahan,” sebut Purbaja.

PT Alam Sutera Realty Tbk. sendiri merupakan salah satu pengembang yang memiliki sejumlah proyek properti skala kota. Selain kawasan perumahan Alam Sutera,  proyek lainnya adalah Suvarna Sutera, Tangerang, dan Kota Ayodya, superblok di Kota Tangerang.

Pada kuartal I 2015, PT Alam Sutera Realty Tbk. mencatatkan pendapatan sebesar Rp990,7 miliar, atau naik 14% dari Rp871,1 miliar, jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Pendapatan tersebut, ditopang oleh penjualan tanah kavling, pendapatan berulang dan pendapatan lainnya tumbuh 28% dari Rp67,4 miliar menjadi Rp86 miliar.

Purbaja mengatakan, untuk tahun 2015 alokasi untuk membeli tanah tidak seekspansif tahun sebelumnya, yaitu hanya sebesar Rp1 triliun. Pertimbangannya cadangan tanah (land bank) perusahaan sudah sangat mencukupi yang berasal dari pembelian di tahun 2012 dan 2013.

Perusahaan sendiri memang masih akan menambah cadangan tanah pada tahun 2015 seluas 2.300 hektar lagi, antara lain di Alam Sutera, Serpong sebesar 400 hektar, Suvarna Sutera, 1.300 hektar, serta ditambah lokasi lain yang telah dikembangkan perusahaan yakni di kawasan Puncak Bogor, Riau, dan Garuda Wisnu Kencana di Bali. Pengembangan di atas lahan tersebut seperti di Alam Sutera Serpong akan dibangun apartemen dan perkantoran, sedangkan di Suvarna Sutera, Pasar Kemis akan dibangun perumahan, ritel, rumah sakit, sekolah, dan perguruan tinggi. (Riz) Versi digital dapat diakses melalui: http://www.getscoop.com/id/majalah/properti-indonesia atau melalui http://www.wayang.co.id/index.php/majalah/properti-indonesia

mpi-update.com