Pasar Sekunder Sumber Utama Pemasukan Perusahaan Broker

Big Banner

Dalam 3 tahun belakangan ini omset transaksi perusahaan broker di pasar primer  terus naik. Namun perusahaan agen properti tetap berusaha fokus menggarap pasar properti sekunder. “Pasar properti sekunder adalah menu utama para broker, sementara pasar primer adalah menu tambahan,” ujar Oka Oka M Kauripan, Managing Director LJ Hooker Indonesia  memberi perumpamaan.

Kata Oka seperti yang dimuat dalam Majalah Properti Indonesia (MPI) edisi Februari 2016 mengatakan, banyak keuntungan jika broker properti menggarap pasar sekunder. Antara lain memiliki database klien karena hubungan broker dan klien saat memasarkan properti seken akan lebih terjalin kuat. Lalu komisi bisa didapat broker properti lebih cepat.

Pada tahun 2015 lalu, kata Daniel, Century21 Indonesia secara komposisi transaksi masih mayoritas di pasar sekunder dengan perbandingan 60 : 40. Properti berjenis hunian (rumah dan apartmen) masih favorit di-trasaksikan dengan rentang harga berkisar Rp1-2 miliar dan didominasi daerah Jakarta sekitarnya.

Hal yang sama dialami perusahaan agen properti RE/MAX Indonesia. “Saat ini RE/MAX Indonesia lebih banyak melakukan transaksi di pasar sekunder, yakni mencapai 60%, sementara sisanya melakukan transaksi di pasar primer,” ungkap Monica Nardi, Chief Executive Officer (CEO) RE/ MAX Indonesia.

Pun dengan ERA Indonesia. “Sebanyak 65% transaksi ERA Indonesia berasal dari pasar sekunder dan 35% dari pasar primer. Dibanding 2014, properti seken di tahun 2015 lebih dilirik karena dapat terjadi pengkoreksian harga dibandingkan properti baru,” ujar Darmadi.

Untuk jenis properti, kata Darmadi, masih berupa rumah atau hunian karena target lebih kepada end user dan untuk wilayah berada di Jakarta Selatan di mana memang banyak pasar sekunder.  Sementara Sari mengatakan,”Tahun lalu, transaksi Ray White Indonesia didominasi oleh properti secondary market. Tidak ada perubahan di tahun sebelumnya.

Untuk komposisi sekitar 70-80% didominasi oleh secondary market.” Jenis properti yang paling banyak ditransaksikan Ray White Indonesia, ungkap Sari, adalah properti residensial untuk secondary market. Daerahdaerah yang tinggi transaksinya terdapat di growing market, seperti Kelapa Gading, Serpong, dan Bekasi.

Tahun 2016 banyak faktor pendukung Perusahaan agen properti melihat banyak faktor pendukung yang akan membuat bisnis agen properti di tahun 2016 lebih baik. Darmadi mengatakan, faktor pendukung adalah membaiknya perekonomian dunia sehingga berdampak secara global dan khususnya perekonomian secara makro. Faktor lainnya adalah turunnya suku bunga Bank Indonesia (BI).

“Dengan turunnya BI rate biasanya diikuti dengan turunnya bunga KPR yang berarti positif untuk bisnis properti,” kata Darmadi.  Lainnya, tambah Darmadi, adanya kebijakan pemerintah perihal Warga Negara Asing (WNA) yang dapat memiliki properti di Indonesia dan juga perihal tax amnesty.

“Apabila kejelasan akan tax amnesty sudah ada maka akan berpengaruh kondusif kepada industri properti,” kata Darmadi. Sementara Daniel melihat berlakunya Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) akan menjadi hal positif, mengingat tingginya pekerja asing yang akan masuk sehingga menjadi peluang tersendiri bagi broker untuk memasarkan hunian bagi mereka.

“Hal ini juga didukung oleh pemberlakukan standar kompetensi nasional bagi broker properti yang sudah berjalan di Januari 2016 ini. Yang menjadi tantangan adalah kita masih membutuhkan waktu untuk menerapkan standar kompetensi ini kepada seluruh broker yang beroperasi di Indonesia,” ujar Daniel.

Sementara faktor penghambat menurut Darmadi adalah faktor keamanan nasional seperti isu serangan teror, melemahnya rupiah yang dapat membuat masyarakat cenderung menyimpang uang dan tidak mudah berinvestasi di properti serta beberapa kebijakan pajak yang memberatkan dan berdampak kepada properti kelas atas. (YS)

mpi-update.com