Grup Agung Podomoro Salah Satu dari 10 Raja Apartemen  

Big Banner

Grup Agung Podomoroland (GAP), satu di antara 10 raja pengembang apartemen di Indonesia yang menjadi liputan utama Majalah Properti Indonesia (MPI) edisi Februari 2016.

Disebutkan, posisinya sebagai pemasok terbesar apartemen  dalam beberapa tahun,  kini  telah disalip Grup Pakuwon Jati . Perbedaan antara kedua raksasa pengembang ini pun hanya terpaut tipis, yaitu jumlah unit dalam satu proyek.

Agung Podomoro memimpin dalam jumlahproyek dan unit, sementara, Pakuwon memimpin dalam luas, dengan jumlah unit lebih sedikit .  Dalam 5 tahun terakhir, APLN berhasil mengembangkan proyek apartemen seluas 1.100.099 m2, yang ditopang dari 12 proyek apartemen dengan total pasokan sebesar 18.895 unit.

Perusahaan pengembang milik Trihatma K Haliman ini tersebar di beberapa kota seperti Jakarta, Balikpapan, Medan dan Bandung. Serupa dengan konsep pengembangan Pakuwon Grup, hampir sebagian besar apartemen yang dibangun merupakan bagian di dalam kawasan pengembangan terpadu (mixed-use development) yang menggabungkan hunian dengan fungsi lain seperti mal, ruko, gedung perkantoran, dan hotel. Unit yang ditawarkan juga beragam, mulai tipe studio, hingga tiga kamar tidur (bedroom/BR).

Green Bay Pluit-Seaview Condominium tercatat sebagai proyek apartemen terbesar yang dibangun APLN. Diluncurkan pada 2012, Green Bay Pluit-Seaview Condominium memiliki luas bangunan 140,000 m2 dan merangkum 3096 unit apartemen. Disusul, Kalibata City-Green Palace dengan luas bangunan 133,000 m2 dan menghimpun 5040 unit apartemen di tahun berikutnya.

Hingga September 2015. PT Agung Podomoro Land Tbk. mencetak pertumbuhan penjualan dan pendapatan usaha sebesar 11,7 persen menjadi Rp3,9 triliun atau meningkat dibanding pencapaian periode yang sama tahun lalu yang tercatat senilai Rp3,5 triliun. Perseroan sendiri saat ini tercatat, memiliki 46 entitas anak dan 2 perusahaan asosiasi di sektor properti di Jakarta, Bogor, Karawang, Bandung, Bali, Balikpapan, Batam, Medan dan Makassar.

Salah satu model bisnis yang dijalankan oleh perusahaan adalah dengan menggunakan konsep bisnis “Fast Churn”. Model ini memungkinkan perusahaan tidak memiliki lahan yang cukup besar, melainkan mengakuisisi perusahaan dengan tanah atau membeli lahan yang dapat langsung dikembangkan menjadi sebuah proyek dalam jangka waktu 3-5 tahun. (Riz). versi digital dapat diakses melalui http://www.getscoop.com/id/search?s=PROPERTI+Indonesia  atau melalui http://www.wayang.co.id/index.php/majalah/properti-indonesia. dan scanie.com

mpi-update.com