Peluang Pasar Rumah Menengah Masih Cukup Luas 2016

Big Banner

Bank Indonesia (BI) belum lama ini merilis hasil survei quartal IV 2015. Di antaranya tentang  pertumbuhan harga dan penjualan properti residensial. Disebutkan bahwa harga dan volume penjualan properti residensial masih menunjukkan perlambatan dan Diperkirakan Berlanjut ke Triwulan I-2016.

Perlambatan kinerja properti juga tercermin dari melambatnya pertumbuhan penjualan properti residensial, yaitu sebesar 6,02% (qtq) lebih rendah dibandingkan 7,66% (qtq) pada triwulan III-2015dan 40,07% (qtq) pada periode yang sama tahun lalu. Perlambatan penjualan properti terutama terjadi pada rumah tipe besar.

Dari sisi penyaluran kredit oleh Perbankan, total KPR dan KPA sampai qurtal tersebut  tercatat Rp 337,38 triliun atau tumbuh sebesar 1,17% (qtq). Angka ini melambat dibandingkan 1,76% pertumbuhan di triwulan sebelumnya dan pertumbuhan total kredit perbankan yang justru mengalami penurunan(-0,24%, qtq). Pada 2016, para analis dan pelaku usaha properti sepakat bahwa sektor properti masih melambat, tetapi segmen pasar menengah ke bawah justru masih kuat. Ini merupakan berita bagus bagi bank selaku penyedia KPR. Karena memang segmen menengah ke bawah yang selama ini menjadi konsumen mereka.

Sejalan dengan tahun 2015, rumah dengan harga di bawah Rp 500 juta akan mendominasi pasar dan diprediksi mencatat tingkat penjualan signifi kan ketimbang properti dengan harga di atasnya. Associate Director Research Colliers International Indonesia, Ferry Salanto, memastikan bahwa penjualan rumah murah akan jauh lebih menguntungkan ketimbang properti kelas atas.

“Konsumen yang beli adalah mereka yang benar-benar membutuhkan. Dan untuk saat ini, bisnis rumah murah justru semakin menguat,” ujar Ferry seperti dikutip dari Majalah Properti Indonesia edisi Februari 2016.

Secara umum, Ferry Salanto mengatakan pasar properti kemungkinan belum bergerak selama semester pertama 2016. Hal ini diindikasikan oleh proyeksi Bank Indonesia terhadap pertumbuhan ekonomi semester pertama 2016 yang diperkirakan masih di bawah 5%. Namun proyeksi ini terbukti tidak mutlak mempengaruhi pertumbuhan KPR.

Oleh karena itu, di tahun Monyet Api ini, sejumlah bank mulai kembali bersemangat menggenjot penyaluran kreditnya. Hal ini didorong oleh perkiraan meningkatnya pertumbuhan ekonomi sejalan dengan makin gencarnya belanja modal Pemerintah. (MRR)

mpi-update.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me