Strategi Bank-Bank di Bisnis KPR dan KPA 2016

Big Banner

Jakarta, mpi-update.  Peluang pasar Kredit Pemilikan Rumah dan Kredit Pemilikan Apartemen (KPR/KPA) semakin menggiurkan sejalan dengan semakin meningkatkan permintaan perumahan. Setiap tahun setidaknya terdapat backlog permintaan rumah hingga 1,5 juta unit. Tak mengherankan sejumlah bank berlomba mengelola bisnis KPR dan KPA.

Bank BTN misalnya selaku pemain utama di bisnis KPR, tetap fokus pada rumah pertama dan kelas menengah bawah, karena potensi pasarnya masih sangat besar. Sementara Bank Mandiri akan melebarkan pelayanan rumah bekas atau  pasar sekunder.

Lain lagi bank BNI yang akan tetap fokus ke KPR, kartu kredit, dan personal loan. Direktur Konsumer dan Retail BNI Anggoro Eko Cahyo seperti dimuat di Majalah Properti Indonesia edisi Februari 2016,  mengatakan, saat ini portofolio bisnis konsumer memang masih didominasi oleh KPR.

PT Bank Central Asia, Tbk (BCA) menargetkan pertumbuhan penyaluran KPR tahun ini bersifat konservatif. Direktur Konsumer BCA, Henry Koenaifi memperkirakan, pertumbuhan KPR tahun ini bakal flat. ”Saya dengar prediksi penjualan rumah flat, mobil juga lebih kurang begitu, ya kita kan ikuti jualan saja,” kata Henry.

Target Konservatif

PT Bank Tabungan Negara (Persero), Tbk (BTN), menargetkan membiayai 600-700 ribu unit di tahun 2016. Angka ini meningkat dibanding target tahun 2015 lalu sebesar 441 ribu unit. Direktur Utama BTN, Maryono menghitung, ada potensi 1,5 juta rumah yang bisa digarap untuk KPR.

Fokus BTN masih di pembiayaan rumah pertama dan kelas menengah bawah. Dengan potensi itu, menurutnya pertumbuhan KPR dapat mendorong pertumbuhan kredit BTN hingga 19%-21% tahun depan. Pencapaian ini sedikit lebih baik ketimbang target pertumbu­han kredit tahun lalu di kisaran 18%-19%.

Sementara PT Bank Mandiri, Tbk (Bank Mandiri) yang cukup optimis mematok pertumbuhan kreditnya akan lebih baik dari tahun ini. Kendati demikian, Bank Mandiri tidak berani mematok target pertumbuhan terlalu tinggi. Mandiri menargetkan pertumbuhan kreditnya berada di kisaran 7%-8%  dibanding realisasi tahun ini.

Alasannya, Direktur Konsumer Mandiri, Hery Gunardi karena sektor properti diperkirakan tidak akan langsung bangkit. Untuk mendorong pertumbuhan KPR, Bank Mandiri akan menggunakan strategi yang berbeda, yaitu mendorong KPR untuk rumah bekas.  Hery mengatakan, porsi KPR rumah bekas di Bank Mandiri meningkat dari 20% menjadi 30%-35% tahun depan. Untuk itu, Bank Mandiri berencana untuk menggandeng banyak agen properti besar. Hal ini dimaksudkan agar komposisi KPR rumah kedua dan seterusnya tersebut makin besar pula.

PT Bank Central Asia, Tbk (BCA) juga menargetkan pertumbuhan yang konservatif. Untuk keseluruhan kreditnya saja, BCA menargetkan pertumbuhan kreditnya hanya di kisaran 10%-11% pada 2016. Direktur Konsumer BCA, Henry Koenaifi memperkirakan, pertumbuhan KPR tahun depan bakal flat. ”Saya dengar prediksi penjualan rumah flat, mobil juga lebih kurang begitu, ya kita kan ikuti jualan saja,” kata Henry.

Presiden Direktur BCA, Jahja Setia Atmadja, kembali menegaskan, bahwa target bisa saja diubah lagi, tergantung kondisi ekonomi makro tahun depan. Lebih lanjut, dia mengungkapkan, bahwa likuiditas dan rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) BCA masih mendukung untuk kredit dapat tumbuh di level 14% di 2016. Oleh sebab itu, jika perekonomian nasional menunjukkan perbaikan di 2016 maka perseroan akan melakukan revisi RBB pada Juni tahun depan.

PT Bank Negara Indonesia, (Persero) Tbk (BNI) yang senada dengan BTN, yakni lebih optimis dalam memprediksi pertumbuhan penyaluran KPR-nya tahun depan. BNI menargetkan, pertumbuhan KPR-nya di kisaran 16%-18%. Target itu sama dengan target pertumbuhan keseluruhan kredit konsumer 2016 nanti. Pasalnya, KPR diakui BNI memang masih menjadi andalan BNI dalam kredit konsumer.

“Kita fokus ke KPR, kartu kredit, dan personal loan,” kata Direktur Konsumer dan Retail BNI Anggoro Eko Cahyo.  Anggoro mengatakan, saat ini portofolio bisnis konsumer memang masih didominasi oleh KPR. Dari outstanding kredit konsumer Rp 56 triliun, 60% diantaranya adalah KPR. Sementara kartu kredit hanya Rp9,7triliun dan personal loan sisanya.

Untuk memuluskan targetnya, tahun ini BNI meluncurkan program promo bunga tetap selama tiga tahun sebesar 8,45%. Program tersebut diakui mendorong pertumbuhan KPR BNI menjadi 6% secara year on year pada September 2015 lalu. Tahun ini BNI menargetkan pertumbuhan kredit KPR dapat mencapai 7%-8%. (MRR).

mpi-update.com