Bisnis KPR & KPA Masih Kencang di Tengah Perlambatan

Big Banner

Jakarta, mpi-update. Penyaluran kredit ke sektor properti merupakan salah satu bisnis yang potensial bagi perbankan. Besarnya potensi penyaluran kredit properti sejalan dengan tingkat permintaan perumahan yang terus membengkak (backlog) serta program sejuta rumah

Seperti diketahui, tahun ini pertumbuhan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) tak sekencang biasanya. Per September 2015, kredit kepemilikan rumah tercatat mencapai Rp318,94 triliun atau hanya tumbuh 5,29%. Lain halnya dengan Kredit Pemilikan Apartemen (KPA).

Penyaluran KPA oleh perbankan tercatat mencapai Rp12,99 triliun atau tumbuh negatif 1,80% dari Rp13,23 triliun pada September 2014. Sementara kredit pemilikan Ruko tumbuh 2,13 % menjadi Rp26,52 triliun dari Rp25,96 triliun pada September 2014.

Ditektur Utama Bank BTN, Maryono menganalisa, penyebab menurunnya permintaan kredit perumahan tahun lalu disebabkan oleh menurunnya daya beli masyarakat di tengah seretnya pertumbuhan ekonomi. Ketatnya aturan Loan To Value (LTV) termasuk larangan untuk indent KPR rumah kedua dan ketiga oleh regulator telah mengakibatkan terjadinya pergeseran komposisi cara bayar beli rumah oleh masyarakat.

Skim KPR FLPP (Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan) dan skim Subsidi Selisih Bunga (SSB) rencananya akan diterapkan tahun 2016. Dari alokasi anggaran sebesar Rp 9,3 Triliun melalui skim KPR FLPP ini menurut Maurin dapat membangun perumahan untuk  asyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) sebesar 100.000 unit.

Terkait skim SSB, dananya 100% disiapkan oleh perbankan, pemerintah nanti yang akan membayar selisih suku bunganya, yaitu selisih suku bunga KPR FLPP dan suku bunga komersil. “Pemberlakuan skim subsidi selisih bunga ini tidak akan merugikan perbankan. Keuntungan Bank akan tetap dan masyarakat berpenghasilan rendah atau debitur tetap membayar suku bunga sebesar lima persen”, kata Maurin. (MRR)

mpi-update.com