Mengenal Achmad Noe’man, Sang Arsitek Seribu Masjid – Property

Big Banner

JAKARTA – Achmad Noe’man mendedikasikan ilmu dan hidupnya untuk mendesain masjid di Indonesia dan mancanegara. Ialah yang mempelopori bangunan masjid tanpa kubah, salah satunya Masjid Salman, yang terletak di kampus Institut Teknologi Bandung (ITB).

Selain masjid Salman di ITB, karyanya juga sampai ke luar negeri, yaitu Masjid Indonesia di Sarajevo, Bosnia dan Masjid Lambung Mangkurat di Banjarmasin. Dia juga merupakan salah satu pendiri Ikatan Arsitek Indonesia. Wah, seperti apa hasil karya yang telah dicetuskannya? Simak ulasan yang dikutip dari laman Balkonie.com berikut ini.

Lahir di Garut tahun 1924, anak dari seorang pendiri Muhammadiyah Garut ini juga turut andil dalam pembangunan sarana pendidikan seperti sekolah, asrama hingga masjid. Disinilah dia mulai tertarik pada bidang arsitektur. Ditarik lebih jauh, ketertarikan Noe’man juga dipengaruhi ayahnya dalam membangun infrastruktur pendidikan di lingkungan Muhammadiyah.

Sempat mengenyam pendidikan di Hollandsch Inlandsche School (HIS) Budi Priyayi Ciledug, Garut, beliau kemudian berlanjut ke jenjang Meer Uitgebreid Lager Onderweijs (MULO) yang sempat ditutup, sehingga mengharuskan beliau untuk pindah ke MULO Yogyakarta dan melanjutkan ke SMA Muhammadiyah, Yogyakarta.

Ketika Indonesia mulai memasuki zaman revolusi, Noe’man bergabung dengan Divisi Siliwangi dan hijrah ke Jakarta dan mengemban tugas sambil bersekolah di Sekolah Menengah Atas Republik.

Dia bercita-cita menjadi Arsitek dan di tahun 1948 meneruskan pendidikan ke Universitas Indonesia di Bandung. Namun, universitas tersebut tidak menyediakan jurusan yang diinginkan sehingga dia memilih masuk jurusan bangunan Fakultas Teknik Sipil.

Noe’man sempat meninggalkan bangku kuliah untuk bergabung dengan CPM (Corps Polisi Militer) pada masa penyerahan kekuasaan dari Belanda terhadap TNI. Saat itu ia masuk dengan pangkat Letnan Dua dan menekuni karir militer hingga tahun 1953.

Dia akhirnya mengundurkan diri ketika mengetahui bahwa Universitas Indonesia membuka jurusan arsitektur.

Noe’man mendapat kesempatan untuk melanjutkan S2 di Kentucky, Amerika Serikat, namun kesempatan itu ditolaknya. Ia memilih mengembangkan bidang arsitektur di negaranya sendiri dengan mengajar sebagai dosen di ITB dan membuka Biro Arsitektur Achman Noe’man (Birano).

Sebelum menjadi dosen, pria asli Garut ini sempat menjadi asisten dosen. Pada periode itu pula, Noe’man mencetuskan ide pembangunan masjid di kawasan kampus ITB. Alasannya sederhana, saat itu para mahasiswa harus berjalan sejauh 2,5 kilometer.

Dia menyampaikan usul itu kepada Kokasih, yang pada saat itu menjabat sebagai rektor ITB, Sayang Kokasih menolak usulan Noe’man dengan alasan takut akan menimbulkan kecemburuan kepada dosen agama lain.

Noe’man tidak menyerah. Dia tetap berusaha mewujudkan idenya. Jalan mulai terbuka melalui mahasiswanya, Ajat Sudrajat, yang memiliki seorang paman tentara berpangkat mayor bernama Sobur.

Mendengar kabar itu, Sobur, yang pada saat itu bertugas menjaga Presiden Soekarno dengan pasukan Tjakrabirawa, segera menyampaikan berita itu kepada Ir. Soekarno. Berita tersebut di sambut baik oleh Bung Karno dan mengundang Noe’man beserta kakaknya Achmad Sadeli.

Noe’man bertemu Bung Karno, yang saat itu didampingi Menteri Agama, di Istana Negara. Segera saja ia sampaikan ide pembangunan masjid lengkap dengan gambar yang rupanya telah ia kerjakan selama dua tahun terakhir.

Tanpa pikir panjang, Bung Karno langsung setuju dengan idenya. Presiden pertama RI itu juga menyumbang nama untuk masjid buatan Noe’man yaitu Masjid Salman. Nama Salman sendiri diambil dari Salman Al Farisi, panglima perang yang cerdas pada zaman Nabi Muhammad SAW.

Pembangunan Masjid Salman dimulai pada tahun 1964 dan diresmikan pada tahun 1972. Masjid ini cukup unik karena tidak seperti kebanyakan masjid di Indonesia, Masjid Salman dibuat tanpa kubah dan tiang penyangga.

Seperti lazimnya, hal baru selalu menimbulkan pro dan kontra. Tak sedikit yang mengkritik desain Noe’man. Namun sang arsitek tak risau. Dia menjelaskan bahwa di Al- Quran tidak mengharuskan sebuah masjid untuk memiliki kubah.

Selain itu, ia juga memiliki alasan teknis. Kubah memiliki bobot yang berat dan harus ditopang oleh tiang penyangga. Sejumlah tiang ini mau tidak mau harus ditempatkan di tengah-tengah yang pada akhirnya justru menghalangi shaf (barisan orang Shalat) dan juga menghalangi pandangan Jamaah ke Khatib.

Di usianya yang menginjak 91 tahun, Noe’man masih terlihat bugar. Ia mengaku kesehatannya ini tak lepas dari kebiasaannya berolahraga di masa muda.

property.okezone.com