Menengok sektor-sektor pendorong IHSG

Big Banner

JAKARTA. Melewati semester pertama tahun ini, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus menguat. Secara year to date (ytd), IHSG sudah mengalami kenaikan sebesar 21,14%. Secara regional, IHSG mencatat kenaikan tertinggi setelah indeks saham India yang mencatat kenaikan 26,8%.

Indeks saham Hang Seng misalnya, hanya naik 6,2% dan indeks Shanghai naik 5,65% ytd. Adapaun indeks Nikkei justru turun 5% ytd.

Kenaikan IHSG didorong oleh naiknya beberapa sektor, seperti sektor property, real estate, dan building construction yang sudah naik 39,65% ytd, sektor finance 27,49% ytd, dan sektor infrastructure sebesar 23,45% ytd.

Ishfan Helmi, kepala riset Sucorinvest Central Ghani mengatakan, rally IHSG sudah mulai kencang. Menurutnya, kenaikan IHSG didorong oleh adanya pemilihan umum presiden dan wakil presiden. “Pada bulan Juni hingga Juli lalu, IHSG naik 7,2% atau hampir sepertiga dari kenaikan sejak awal tahun,” paparnya.

Menurut Ishfan, investor mulai masuk ke bursa lantaran hasil pemilu sesuai dengan harapan pasar. Sementara di luar sentimen pemilu,. Ishfan menilai kondisi ekonomi dalam negero masih mengalami konstraksi. Hal ini salah satunya terlihat dari defisit transaksi berjalan yang menxcapai US$ 9,1 miliar atau 4,2% dari produk domestik bruto (PDB) pada kuartal II-2014.

Ishfan mengatakan, saham konstruksi mengalami kenaikan paling tinggi lantaran pasar menaruh harapan besar pada sektor ini. Hal ini mengingat Presiden terpilih Joko Widodo bertekad untuk mempercepat pembangunan infrastruktur. Sementara saham-saham sektor perbankan mencatat kenaikan lantaran kondisi fundamental yang masih baik.

Di semester I-2014, sektor perbankan masih membukukan pertumbuhan pendapatan bunga bersih di atas 20% dengan pertumbuhan laba bersih di atas 15%. Padahal, kondisi suku bunga masih tinggi dan likuiditas yang juga masih ketat.

Meski demikian, Ishfan menilai saham – saham sektor perbankan dan konstruksi sudah rally cukup kencang. Sementara pemangkasan anggaran bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi diprediksi baru akan terlaksana satu hingga dua tahun ke depan. “Oleh karena itu, percepatan pembangunan baru bisa terlaksana di tahun ke-3 pemerintahan baru,” lanjut Ishfan.

Proyeksi Ishfan, kondisi ekonomi bisa kembali naik pada tahun 2019 dengan GDP sebesar 7%. Sebagai catatan, GDP saat ini berada di kisaran 5,1%. Hingga akhir tahun ini, Ishfan memprediksi IHSG akan berada di kisaran 5.685.

Supriyadi, Kepala Riset OSO Securities mengatakan, rata-rata asumsi penurunan IHSG pada bulan – bulan tertentu ternyata tidak terbukti. “Pemilihan umum yang berjalan aman dan damai membuat investor yakin terhadap pasar saham dalam negeri,” katanya.

Supriyadi menilai saham sektor konstruksi mengalami pertumbuhan lebih kencang dari sektor properti tahun ini. Hal ini merupakan kebalikan dari tahun lalu, dimana properti masih tumbuh lebih kencang dari konstruksi. Sementara tingkat inflasi yang masih dalam trend menurun telah mengangkat sektor perbankan.

Selain sentimen dari dalam negeri, kenaikan IHSG menurut Supriyadi didorong oleh perbaikan ekonomi di Amerika Serikat dan Eropa. Seperti menurunnya tingkat pengangguran di Amerika dan pertumbuhan ekonomi di Eropa. “Hal ini membuat investor semakin percaya diri,” ujarnya. 

Jika perekonomian Amerika membaik, maka ekspor dalam negeri juga akan membaik. Perkiraannya, IHSG hingga akhir bulan ini akan berada di kisaran 5.250.

Sedangkan tahun ini, Supriyadi menduga IHSG bisa mencapai 5.400 – 5.600. “Proyeksi ini bukan untuk akhir tahun, tetapi bisa sebelum atau setelahnya, tergantung dari banyak hal, seperti kebijakan BBM subsidi,” paparnya.

Isfhan lebih menyukai saham sektor media dan ritel. Menurutnya, secara historis dalam lima tahun terakhir pertumbuhan pendapatan sektor media 2x hingga dari pertumbuhan GDP. PT Surya Citra Media Tbk (SCMA) misalnya, daam lima tahun terakhir pendapatannya 2,9x dari pertumbuhan GDP. Ishfan memperkirakan rata-rata pertumbuhan pendapatan SCMA sebesar 19% hingga 2019.

Selain itu, Ishfan juga merekomendasikan PT Ace Hardware Tbk (ACES). Menurutnya, pendapatan ACES akan meningkat seiring dengan pertumbuhan pendapatan per kapita masyarakat. Ishfan merekomnedasikan buy untuk saham SCMA dengan target harga Rp 4.500 dan ACES dengan terget Rp 1.200 per saham.

Supriyadi masih menyukai saham PT Ciputra Development Tbk (CTRA), PT PP (PTPP), dan PT Wijaya Karya Tbk (WIKA). Menurutnya, fair value untuk WIKA berada di kisaran Rp 3.300 per saham, PTPP Rp 2.600 – Rp 2.700 per saham, dan CTRA Rp 1.250 – Rp 1.300 per saham. “Kalau mau masuk lebih baik menunggu koreksi atau buy on weakness,” imbuhnya. 

Editor: Yudho Winarto

investasi.kontan.co.id

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me