Kereta Cepat Menarik Gerbong Properti – Property

Big Banner

JAKARTA – Akhirnya Kereta Api (KA) Cepat Jakarta-Bandung diresmikan pada 21 Januari lalu. Terlepas dari pro kontra, terutama mengenai analisis dampak lingkungan (amdal) yang mencuat di permukaan, KA cepat bakal menarik gerbong industri properti di daerah sekitarnya.

Lantas, apa saja manfaat utama yang dapat dipetik terutama bagi sektor properti ke depan? Pertama, memperluas konektivitas antardaerah. Pembangunan KA Cepat yang dikelola PT Kereta Cepat Indonesia China (PT KCIC) ditargetkan akan selesai pada 2019. Rel KA Cepat yang dibangun di tepi jalan tol itu akan menghubungkan kawasan Halim Perdanakusuma di DKI Jakarta-Karawang-Walini (Bandung Barat) sampai dengan Gedebage (Kota Bandung).

Artinya, KA Cepat itu akan memperluas, sekaligus memperlancar konektivitas, bukan hanya DKI Jakarta, juga Kabupaten Karawang, Kabupaten Purwakarta, Kabupaten Bandung Barat, Kabupaten Bandung, Kabupaten Sumedang, bahkan Kota Bandung dan Kota Cimahi. Wow! Bukan hanya itu. KA Cepat yang akan berakhir di Stasiun Gedebage (Kota Bandung) itu akan mendorong lahirnya kereta ringan (light rail transport/LRT) menuju Kota Bandung.

Ini menyusul LRT dari Jakarta ke Cibubur yang kelak sampai Bogor. Kedua, mempercepat waktu tempuh. Dengan demikian, waktu tempuh Jakarta- Bandung akan lebih cepat lagi dari semula 3-4 jam menjadi hanya 30-45 menit.

Sektor Properti Lebih Bergairah

Ketiga, membuat sektor properti lebih bergairah. Kelak daerah Walini, Bandung Barat selain terminal terpadu akan dibangun 2.200 unit apartemen, 4.400 unit apartemen berlayanan, 2.200 ruang hotel bisnis. Tidak berhenti di situ. Di sana juga akan dibangun 3.080 ruangan hotel ekonomis, 2.208.000 meter persegi perkantoran (termasuk MICE, kawasan medis dan pusat riset), 4.049.280 meter persegi kawasan niaga dan 200 ha perumahan.

Bukan main! Sudah barang tentu, rencana itu semua dijamin akan membuat industri properti nasional semakin bergairah. Tidak dapat disangkal bahwa pembangunan infrastruktur seperti jalan kereta api dan KA Cepat akan mendorong kawasan yang semula tidak diperhitungkan secara bisnis, tetapi kini bersinar cerah. Tengok saja, siapa yang kenal Walini sebelum ada rencana KA Cepat? Nanti, Walini akan menjadi kawasan agrobisnis dan wisata terintegrasi.

Bahkan, kemungkinan besar, Walini suatu saat akan menjadi kota administratif sebelum menjadi kota seperti Kota Cimahi. Kelak ketika rencana LRT di Kota Bandung terwujud, Cimindi (dekat Cimahi) juga berpotensi menjadi Kota Cimindi. LRT tersebut terdiri atas koridor I berjarak sekitar 10,15 km Gedebage-Kota Bandung dan koridor II yang berjarak 20 km Cimindi-Gedebage. Keempat, memperluas kesempatan kerja. Proyek raksasa seperti KA Cepat, tentu saja akan memberikan dampak ekonomis. Apa bentuknya?

Kesempatan kerja yang lebih luas. Coba periksa data berikut. Selama tiga tahun masa pembangunan KA Cepat pada periode konstruksi akan tersedia kesempatan kerja bagi 39.000 orang. Pada periode konstruksi rencana pengembangan yang berorientasi transit akan tersedia kesempatan kerja bagi 20.000 orang selama 15 tahun. Pada periode operasional akan tersedia kesempatan kerja bagi 28.000 orang selama 25 tahun (Harian Kompas, 15 Januari 2016). Data itu belum termasuk rencana pembangunan kawasan bisnis, wisata, riset, apartemen, perumahan dan hotel.

Oleh karena itu, secara agregat, pembangunan itu semua akan mendorong sektor properti lebih menggeliat termasuk bisnis ikutannya. Pembangunan itu juga akan membangkitkan wisata Bandung Barat makin bercahaya yang selama ini hanya dinikmati Kota Bandung. Jangan lupa bahwa bisnis wisata akan memberikan berkah tersendiri yakni devisa dari kunjungan wisatawan mancanegara. Ini sejalan dengan tekad pemerintah untuk meningkatkan sektor pariwisata.

Ingat pula bahwa sektor pariwisata akan mendorong pengembangan ekonomi kreatif. Selama ini ekonomi kreatif meliputi periklanan, arsitektur, seni, kerajinan, desain, fashion, film, musik, seni pertunjukan, penerbitan, penelitian dan pengembangan, perangkat lunak, mainan dan permainan, televisi dan radio dan permainan video. Dalam rencana revisi Daftar Negatif Investasi (DNI) yang dirancang bakal tuntas Maret 2016, sektor pariwisata dan sektor ekonomi kreatif menjadi target untuk direvisi.

Bahkan, semua bidang perfilman di jasa teknik, produksi, distribusi, dan ekshibisi bioskop dibuka 100% untuk investor asing. Kelima, menekan tingkat pengangguran terbuka (TPT). Kesempatan kerja yang semakin luas juga akan mengurangi tingkat pengangguran terbuka yang mencapai 6,18 persen per Agustus 2015. Angka tersebut naik dari 5,94 persen pada periode sebelumnya, Agustus 2014. Oleh karena itu, tidak terlalu berlebihan kalau 2016 disebut sebagai tahun menjanjikan bagi sektor properti.

Namun, pelaku bisnis properti wajib mengerek tingkat kualitas pembangunan perumahan, apartemen, dan hotel. Bagi industri perbankan nasional, pembangunan KA Cepat beserta bisnis ikutannya termasuk sektor properti sudah pasti merupakan peluang bisnis yang legit pada 2016.

property.okezone.com