Permintaan Apartemen di Tangerang Masih Tinggi – Property

Big Banner

JAKARTA – Permintaan apartemen di kawasan Tangerang, Banten, dinilai masih cukup tinggi pada 2016. Hal itu dapat dilihat dari maraknya proyek pembangunan apartemen yang mencapai 30-an proyek di kawasan tersebut.

Tangerang bagian dari kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) yang berpenduduk 25 jutaan jiwa. Kini, Tangerang mencakup Tangerang Selatan, Tangerang Kota, dan Kabupaten Kota.

Ketiganya masuk dalam Provinsi Banten yang bersebelahan dengan DKI Jakarta. “Mengingat terbatasnya lahan dan harga lahan yang semakin tinggi, kawasan Bodetabek mulai mantap berubah konsep huniannya darilanded ke high rise atau vertikal,” ujar Ketua DPD Real Estate Indonesia (REI) DKI Jakarta Amran Nukman.

Dalam menopang proyek hunian vertikal di kawasan Bodetabek, termasuk Serpong, Tangerang, dukungan infrastruktur transportasi amat mutlak. Mengingat letaknya di daerah penyangga, sedangkan aktivitas penghuninya masih di Jakarta, maka dukungan infrastruktur transportasi massal merupakan suatu keharusan.

“Jika tidak, masyarakat hanya akan merasakan pembelian huniannya yang murah, tapi tetap mahal di ongkos transportasi,” ungkapnya. Di ketiga kota/kabupaten tersebut tercatat ada 31 proyek hunian vertikal dengan kapasitas 54.988 unit apartemen. Data Cushman & Wakefield Indonesia memperlihatkan, jumlah pasokan anyar yang berlangsung hingga 2-3 tahun mendatang itu, jauh lebih besar dari apartemen yang kini ada.

Di Tangerang, saat ini terdapat 12.686 unit apartemen. “Hunian vertikal masih prospektif karena kebutuhan hunian masih tinggi, termasuk di Jabodetabek,” kata Tjakra Donja Puteh, Project Manager Grand Kamala Lagoon. Khusus untuk di Serpong, lanjutnya, pasar membutuhkan edukasi terkait produk apartemen premium.

Edukasi kepada pasar diberikan terkait kualitas produk yang disesuaikan dengan kebutuhan konsumen, tapi harganya relatif dapat terjangkau. “Contohnya, proyek apartemen Ayoma,” kata Puteh. Presiden Direktur PT Brewin Mesa Developer Bill Cheng, pengembang properti yang berbasis di Singapura, kota-kota satelit Jakarta posisinya amat penting dalam menopang pertumbuhan kehidupan perkotaan di Indonesia .

“DKI Jakarta sudah semakin padat dan lahan yang tersedia untuk pengembangan makin sedikit. Hanya ada satu cara untuk memperluas kota ini, yaitu keluar menuju kota-kota satelit,” ujarnya. Kota-kota satelit seperti Lippo Karawaci, BSD dan Alam Sutera, lanjut dia, sangat menarik.

Tidak hanya karena biaya yang lebih rendah dibandingkan dengan proyek di Jakarta, juga integrasi yang ditawarkannya – sekolah, mal, dan fasilitas lainnya yang terletak dekat dengan kompleks perumahan yang aman. “Pada saat yang sama, kota-kota ini memiliki aksesibilitas yang baik ke Jakarta melalui jalan tol yang ada untuk memudahkan perjalanan.

Kota-kota satelit akan terus menjadi pilihan yang menarik untuk pasar segmen menengah ke atas,” tuturnya. Director Research & Advisory Cushman&Wakefield Arief Rahardjo mengatakan, pasar hunian vertikal stratatitle apartment di Jabodetabek pembelinya masih didominasi oleh investor, bukan enduser .

Walaupun memang benar di daerah yang sudah sangat komersial dan harga lahan/rumahnya sudah tidak terjangkau oleh masyarakat umum, strata apartment memang jadi pilihan untuk hunian. “Dari segi permintaan dan pasokan kue terbesar pasar apartemen ini masih di harga Rp15-20 juta per meter persegi,” ungkapnya.

property.okezone.com