2 Alasan Berakhirnya Bubble Pasar.. -1316722::Okezone Ekonomi

Big Banner

LONDON – Hasil penelitian dari perusahaan real estat Knight Frank menunjukkan penjualan rumah di London anjlok hingga sepertiganya, sehingga mencapai lebih dari 10 juta poundsterling atau setara Rp194 miliar (mengacu kurs Rp19.414 per poundsterling) pada 2015.

Salah satu agen yang mengkhususkan dirinya pada properti perdana di London, Charles McDowell mengatakan, penurunan penjualan rumah tersebut disinyalir akibat dua alasan utama, yakni meningkatnya pajak, dan turunnya jumlah pembeli asing.

“London selalu memiliki minat dari investor asing terkaya, karena London adalah tempat yang bagus, tetapi juga karena London merupakan tempat menarik untuk berinvestasi,” kata Charles McDowell, seperti dilansir dari laman CNN, Minggu (21/2/2016).

Cowell melanjutkan, banyaknya investor asing masuk terjadi lantaran pembeli di luar negeri lebih tertarik akibat status safe haven-nya London dan prospek pengembalian investasi yang tinggi. Sayang, kini investor telah terpukul akibat melambatnya pertumbuhan ekonomi dan anjloknya harga minyak. Padahal sebelumnya, London pernah memiliki beberapa investor paling aktif, seperti dari Rusia, China dan Timur Tengah.

“Telah terjadi perlambatan pembeli Rusia dan China, dan beberapa pembeli dari Timur Tengah. Ini mengurangi investasi dengan pasar London, tetapi lebih berkaitan dengan apa yang terjadi di negara mereka sendiri,” ujar McDowell.

Kenaikan harga rumah dikatakannya telah melambat. Harga rumah di sepanjang Inggris Raya naik 4,4 persen pada Januari, tetapi harga untuk rumah mewah meningkat hanya 1,7 persen.

Sementara itu, masih kata McDowell, penurunan harga rumah juga terkait masalah transaksi pajak. Pemerintah Inggris Raya meningkatkan materai pada akhir 2014. Kebijakan ini membuat banyak investor bergegas membeli sebelum materai naik. Pajak rumah senilai 10 juta poundsterling naik menjadi 1,1 juta poundsterling dari sebelumnya 700 ribu poundsterling. Pajak diatur dengan kenaikan tambahan sebesar 3 persen pada April.

Ketakutannya adalah bahwa para pembuat kebijakan hukum bisa terus mendongkraknya. “Kita perlu kejelasan. Pembeli dapat menangani pajak transaksi. Apa yang mereka tidak bisa tangani adalah ketidakpastian dalam sistem pajak, sistem yang terus berubah,” tuturnya.

Kemungkinan Inggris Raya akan mundur dari Uni Eropa dalam sidang keputusan Juni mendatang, juga membuat pembeli potensial ketakutan. Salah satu perusahaan pembiayaan asal Jepang, Nomura memperingatkan apa yang disebut Brexit bisa memicu penurunan 10 persen pada harga perumahan.

(dhe)

property.okezone.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me