Pertumbuhan Properti Sumut Diprediksi Alami Perlambatan

Big Banner

(Berita Daerah – Sumatera) Real Estate Indonesia (REI) Sumatera Utara (Sumut) memprediksi jika pertumbuhan properti di daerah tersebut pada tahun 2014 ini melambat atau lebih rendah dari tahun lalu yang disebabkan antara lain naiknya suku bunga kredit kepemilikan rumah.

Jika pada tahun 2013 ke bawah yang lalu properti Sumut masih bisa tumbuh di atas 10 persen, maka tahun ini tidak akan sebesar itu atau di kisaran 5-10 persen. Pertumbuhan yang melemah itu sudah terlihat sejak permulaan tahun dan masih berlangsung hingga awal Maret. Padahal, biasanya paling lama permintaan sudah terlihat banyak di akhir Februari.

Permintaan diyakini masih akan sepi dalam beberapa bulan ke depan karena ada Pemilu yang biasanya membuat sebagian besar masyarakat menunda melakukan investasi.

Melemahnya permintaan properti khususnya rumah sederhana dampak melemahnya daya beli yang antara lain disebabkan semakin tidak seimbangnya lagi pendapatan dan pengeluaran dampak inflasi yang tinggi.

Daya beli semakin lemah karena selain suku bunga kredit kepemilikan rumah (KPR) naik, juga akibat penerapan aturan loan to payment (LTP) atau uang muka yang besar dan termasuk semakin sulitnya mendapatkan harga lahan yang murah.

Kebijakan yang menetapkan uang muka cukup besar pada pembelian rumah seperti sebesar 40 persen untuk kepemilikan rumah kedua dan 50 persen bagi rumah ketiga semakin membuat pertumbuhan properti tertekan.

Akan tetapi, kalau Pemerintah memberikan dukungan, perlambatan permintaan properti itu bisa ditekan. Dukungan Pemerintah misalnya dari memberikan kemudahan perizinan, menahan laju BI Rate yang otomatis menekan suku bunga KPR dan menekan inflasi sehingga daya beli sedikit pulih.

Besaran Sertifikat Bank Indonesia (SBI) yang sudah sebesar 7,5 persen dan ada wacana akan naik lagi akan mendorong lagi KPR dan lainnya.

Pengadaan rumah khususnya tipe sederhana harus didukung secara maksimal oleh Pemerintah. Bantuan yang paling mengena adalah penyediaan pinjaman uang muka perumahan seperti yang pernah dilakukan oleh PT Jamsostek saat belum menjadi BPJS Ketenagakerjaan.

Sektor properti sendiri diperkirakan bakal berkembang setelah penyelenggaraan Pemilu 2014 asalkan pesta rakyat tersebut berjalan dengan aman dan lancar. Bila sebelum pemilu kondisi umum, bisnis dan pasar properti pertumbuhannya melambat, maka setelah pemilu pasar bergerak naik.

Sektor properti akan kembali naik dengan asumsi skenario yang optimistis yaitu penyelenggaraan pemilu berlangsung damai, tanpa huru-hara, dan pelaksanaan sesuai jadwal tanpa penundaan. Berkembangnya sektor properti juga diperkirakan semakin pesat bila struktur kabinet yang baru berisi orang-orang yang kompeten di bidangnya dan kondisi makro-ekonomi bertambah baik secara bertahap.

Bila semua skenario itu berjalan dengan baik, maka pengembang yang kini tengah konsolidasi akan mulai melakukan ekspansi proyek properti kembali pascapemilu.

Selain itu, investor atau pembeli yang kini menunggu perkembangan atau menahan rencana pembelian maka setelah pemilu berlangsung diperkirakan bakal segera transaksi atau melakukan eksekusi.

Eronu Telaumbanua/Jurnalis
Editor: Eni Ariyanti

Pic: ant

beritadaerah.co.id