Arsitek Sebut MEA Pedang Bermata Dua

Big Banner

JAKARTAIkatan Arsitek Indonesia (IAI) Jakarta mengaku, pasar bebas Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) seolah bagaikan pedang bermata dua.

Ketua IAI Jakarta Steve J Manahampi mengatakan, persaingan arsitek Indonesia dengan arsitek asing di dalam negeri sudah berlangsung lama, bahkan sebelum adanya MEA.

“Kita sudah lama dijajah teman-teman dari negara lain, ini adalah tantangan tapi juga peluang,” kata Steve dalam konferensi pers Pameran MEGABUILD Indonesia 2016, di Jakarta, Selasa (1/3/2016).

Meski begitu, dia berpandangan MEA tetap dibutuhkan untuk meningkatkan kompetensi dan daya saing arsitek lokal. Pasalnya, saat ini menurutnya banyak arsitek lokal yang terlena.

“Karena banyak yang berpikiran kalau proyeknya tidak kemana-mana, dengan adanya MEA maka mereka kaya diingatkan, ada arsitek lain yang bisa saja mengambil proyek-proyek itu dengan hasil yang mungkin lebih baik,” ujarnya.

Apalagi, dia melanjutkan, sebagian besar arsitek Indonesia memilih cari uang dengan cara ‘gampang’, yakni mengerjakan rumah-rumah tinggal.

“Mereka cenderung tidak mengambil proyek dengan daya kompleksitas tinggi, seperti hotel, rumah sakit, area komersil, yang memerlukan jangka waktu panjang,” tuturnya.

Dengan begitu, dia berpandangan ada peluang market yang dapat dimanfaatkan arsitek asing yang tidak bisa dikerjakan oleh arsitek Indonesia.

“Jadi para developer kebanyakan menggunakan arsitek asing karena arsitek Indonesianya jarang yang menggarap proyek dengan kompleksitas tinggi,” pungkasnya.

property.okezone.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me