Strategi Sentul City Gali Lubang Tutup Lubang

Big Banner

JAKARTA – Belum pulihnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, rupanya bakal menjadi beban bagi perseroan yang memiliki utang dolar AS di saat kondisi ekonomi global yang belum menentu. Maka untuk menghindari potensi risiko tersebut, PT Sentul City Tbk (BKSL) berencana mengonversi seluruh utang yang berbentuk valuta asing ke Rupiah di tahun ini. Tujuannya, mencegah kerugian kurs dan berharap dapat meningkatkan profit perusahaan.

Presiden Direktur Sentul City, Keith Steven Muljadi menjelaskan, agar rencana tersebut terealisasi, emiten berkode saham BKSL itu menjajaki beberapa alternatif pendanaan guna refinancing utang berbentuk dolar AS.”Kami tengah menjajaki pinjaman dalam Rupiah. Selain itu opsi penerbitan medium term notes dan obligasi konvensional,” ujarnya kemarin.

Demi menjaga kas perusahaan dari fluktuasi nilai tukar, BKSL sedang mempelajari aksi lindung nilai atau hedging. Ini untuk menurunkan eksposur dolar dalam neraca keuangan. Sayang, mahalnya biaya hedging menyebabkan perusahaan ini masih harus berpikir dua kali.

Mengurangi tekanan dolar memang menjadi salah satu fokus utama BKSL tahun ini. Asal tahu saja, emiten properti ini memiliki total utang valas sebesar USD39,8 juta. Yang terbesar dalam bentuk notes kepada Winter Capital Pte. Lte senilai USD33 juta. Sisanya, outstanding pinjaman dari CIMB Bank Berhad, Labuan Offshore Branch sebesar USD6,8 juta. Target penurunan utang BKSL tahun ini sebanyak USD15,4 juta. Artinya, utang dalam bentuk dolar di perusahaan tinggal menyisakan USD24,4 juta.

Bikin Anak Usaha

Sebelumnya, perusahaan sempat mengonversi sebagian utang valasnya ke Winter Capital. Dalam laporan keuangan Bukit Sentul di kuartal III-2015 tercatat kerugian selisih kurs yang mencapai Rp70,58 miliar. Hal tersebut menjadi penekan kinerja BKSL. Maklum, di periode yang sama tahun sebelumnya, rugi kurs perseroan tercatat hanya sekitar Rp1 juta. Rugi selisih kurs turut menekan profit BKSL. Pada kuartal III-2015, perseroan mencatatkan rugi bersih Rp125,51 miliar. Padahal, pendapatan hanya turun sekitar 16,13 persen secara year on year (yoy) menjadi Rp398,18 miliar.

Sebagai informasi, dalam pengembangan bisnisnya Sentul City cukup agresif melebarkan sayapnya dengan menggandeng perusahaan properti untuk mendirikan anak usaha patungan. Teranyar, emiten properti ini bersama perusahaan asal Hawai, Group 70 International Inc mendirikan usaha patungan dengan modal dasar sebesar Rp30 miliar dan modal ditempatkan Rp11,3 miliar.

Dijelaskan, dalam perusahaan patungan tersebut, BKSL hanya menjadi pemegang saham minoritas dengan menanamkan dana sebesar Rp5,08 miliar. Sedangkan, Group 70 International Inc menjadi pemegang saham mayoritas dengan menyertakan modal sebesar Rp6,21 miliar untuk modal ditempatkan di perusahaan. Nantinya perusahaan tersebut akan menjalankan usaha di bidang jasa, seperti jasa arsitektur, jasa interior design, jasa teknik sipil, konsultasi teknis dan perencanaan induk.

Perseroan menyakini, pembentukan usaha petungan tersebut akan membawa pengaruh positif terhadap perkembangan bisnis kedua perusahaan. Sebelumnya, perseroan juga menggandeng kerjasama dengan PT PP Properti Tbk (PPRO) membentuk perusahaan patungan dengan nilai modal mencapai Rp100 miliar. Usaha yang dibentuk bergerak di bidang jasa, pembangunan dan perdagangan.

(dhe)

property.okezone.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me