Neraca kian enteng jika keringanan pajak di tangan

Big Banner

JAKARTA. PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk (TKIM) sedang meminta keringanan pajak berupa tax holiday. Ini lantaran TKIM sedang membangun pabrik bubur kertas melalui PT OKI Pulp and Paper Mills (OKI).

Menurut Direktur TKIM, Suhendara Wijaya, bisnis OKI dapat menyumbang kas negara Rp 14,84 triliun. Negara juga bisa meraup perolehan pajak Rp 3,79 triliun. Mengingat pabrik OKI dibangun di Sumatera Selatan, maka TKIM memperkirakan ekspor Sumatera Selatan bisa meningkat 31,7% dengan kenaikan PDB sekitar 8,7%.

Tak hanya itu, pabrik baru TKIM dapat membuka 3.450 lapangan kerja baru secara langsung, serta 7.000 kesempatan kerja tidak langsung.

Manajemen TKIM berharap, pemerintah dapat membebaskan Pajak Penghasilan (PPh) Badan selama 10 tahun terhadap OKI sehubungan pembangunan pabrik pulp dan tisu. Alasannya, 10 tahun merupakan waktu minimal bagi OKI mengembangkan bisnis.

Reza Nugraha, Analis MNC Securities menilai, pembebasan Pajak Penghasilan (PPh) bisa meringankan beban TKIM. Namun tidak akan banyak berpengaruh terhadap kinerja. “Harus dilihat dulu, porsi pajak ke beban keseluruhan TKIM,” papar dia.

Reza menilai, pabrik OKI yang justru bisa meningkatkan bisnis TKIM ke depan. Ini sejalan dengan kebutuhan kertas yang meningkat. “Terlebih, kompetitor besar dari China,” ujar dia.

David N Sutyanto, Kepala Riset First Asia Capital mengatakan, jika permintaan tax holiday dikabulkan, maka cash flow TKIM semakin lancar. Pasalnya, untuk mengembangkan bisnis hingga mempunyai posisi yang kuat di industri butuh waktu lama. Pabrik OKI pun baru bisa beroperasi di kuartal II-2016.

Menurut David, permintaan kertas TKIM bisa tertekan dengan gerakan paper less. Gerakan ini muncul seiring dengan perkembangan teknologi dan isu pemanasan global.

Andalkan bisnis tisu

William Surya Wijaya, Analis Asjaya Indosurya Securities menambahkan, gerakan paper less baru berdampak dalam jangka panjang. Namun, TKIM masih bisa mengambil peluang dari kertas kemasan. Apalagi, penggunaan kantong plastik mulai dibatasi karena sulit didaur ulang.

Menurut David, meski permintaan kertas menurun, permintaan kertas tisu masih tinggi. Ini terkait gaya hidup masyarakat masa kini yang lebih suka menggunakan tisu daripada kain lap.

Jika pemerintah tidak membatasi ruang gerak TKIM, terkait isu lingkungan, David memperkirakan, kinerja TKIM masih bertumbuh dalam jangka panjang. Apalagi pabrik OKI sudah beroperasi. Di semester II, David menilai TKIM bisa efisiensi.

William memproyeksikan, pendapatan dan laba bersih TKIM tahun ini sama seperti tahun lalu yakni di US$ 1,22 miliar dan US$ 27,38 juta.

Sementara David memperkirakan, pendapatan TKIM bisa tumbuh 15%-20% dan laba bersih tumbuh 5%-10%. Reza memprediksikan, pendapatan dan laba bersih TKIM tahun ini akan tumbuh 15% – 18%.

Ketiga analis ini merekomendasikan, hold. David menargetkan di Rp 1.200, Reza di Rp 1.080 dan William menargetkan di 1.200 per saham. Kamis (28/8), harga saham TKIM tak bergerak dari Rp 1.035 per saham.         

Editor: Avanty Nurdiana

investasi.kontan.co.id

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me