RUPS setuju ESSA pinjami anak usaha US$ 50 juta

Big Banner

JAKARTA. PT Surya Eka Perkasa Tbk (ESSA) mengadakan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) hari ini, (25/8). Agenda yang dibahas dalam kegiatan tersebut terkait pencairan pinjaman untuk anak usahanya, PT Panca Amara Utama (PAU).

“Sesuai dengan hasil rapat tadi, pemegang saham menyetujui agenda tersebut,” tandas Garibaldi Thohir, Presiden Direktur ESSA seusai kegiatan RUPSLB tersebut.

Perlu diketahui, pasca persetujuan ini, ESSA akan segera mengucurkan pinjaman untuk PAU sebesar US$ 50 juta. Ini merupakan langkah awal perseroan untuk mengerjakan proyek besar pabrik amonia. Pinjaman ini akan dikucurkan secara bertahap mulai September 2014 hingga Desember 2016 dengan tingkat bunga 5% per tahun.

Kucuran pinjaman tersebut merupakan syarat pendahuluan agar PAU bisa mencairkan pinjaman sekitar US$ 500 juta dari International Finance Corporation (IFC). Nantinya, dana IFC ini digunakan untuk menambal biaya pembangunan pabrik ammonia yang berada di Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan. Biaya pembangunan pabrik itu mencapai US$ 799 juta.

Finalisasi terkait pinjaman dengan IFC akan dilakukan bulan depan. Sementara, pencairan dari IFC akan dilakukan pada kuartal I tahun depan sesuai dengan kebutuhan.

Sumber dana yang digunakan oleh perusahaan untuk pinjaman guna pengembangan PAU berasal dari pendapatan operasional dan fasilitas kredit yang diterima oleh perusahaan dari perbankan. Sementara, sehubungan dengan Perjanjian kredit, berdasarkan kesepakatan antara IFC, PAU dan perseroan, perseroan akan menjaminkan seluruh sahamnya dalam PAU untuk IFC. Catatan saja, ESSA memiliki 59,98% baik secara langsung maupun tidak secara langsung melalui PT Sepchem.

ESSA juga mencari dana lewat sumber lain yaitu dengan menerbitkan 100 juta saham baru melalui skema penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (PMTHMETD) alias private placement. Harga private placement yang dibandrol saat ini minimal Rp 2.800 per saham. Walhasil, total dana dari hasil private placement adalah senilai Rp 280 miliar. 

Diluar sisi keuangan, ESSA juga telah melakukan sejumlah langkah teknis. Ground breaking untuk proyek yang memiliki kapasaitas produksi 700.000 ton telah dilakukan. “Selama ini, kami telah mengeluarkan US$ 45 juta untuk tahap tersebut,” imbuh Isenta Hioe, Direktur Keuangan ESSA pada kesempatan yang sama.

Lalu, ESSA juga telah menandatangani perjanjian pokok jual beli gas dengan joint operating body Pertamina Medco Tomori Sulawesi senilai US$ 1,4 miliar. Pertamina Medco Tomori Sulawesi menyepakati memasok gas sebanyak 55 million standard cubic feet per day (mmscfd). Pengiriman gas akan dilaksanakan mulai kuartal IV 2016 hingga tahun 2027.

ESSA juga telah menandatangani Engineering Procurement Contract (EPC) dengan konsorsium PT Inti karya Persada Teknik dan Toyo Engineering Corporation (Jepang) untuk membangun dan mendirikan pabrik ammonia. 

Garibaldi menambahkan, pinjaman untuk proyek raksasa ini merupakan pinjaman terbesar IFC yang dikucurkan ke Indonesia. “Ini menunjukan bahwa asing semakin percaya dengan iklim investasi di Indonesia,” pungkasnya.

Editor: Sanny Cicilia

investasi.kontan.co.id