Penjualan Properti Awal 2016 Naik, Tanda Bangkitnya Ekonomi?

Big Banner

TEMPO.CO, Jakarta – Kenaikan jumlah penjualan perumahan di sejumlah wilayah di Tanah Air merupakan sinyal positif pada awal 2016 bagi kebangkitan sektor properti khususnya untuk pasar perumahan di berbagai daerah.

“Riset yang dilakukan Indonesia Property Watch memperlihatkan nilai penjualan triwulan IV/2015 di Bodetabek-Banten menunjukkan kenaikan pertumbuhan penjualan sebesar 16,6 persen dibandingkan dengan triwulan sebelumnya,” kata Direktur Eksekutif Indonesia Property Watch Ali Tranghanda di Jakarta, Rabu (3 Februari 2016).

Dia mengakui bahwa pertumbuhan tersebut belum dapat dipastikan sebagai pola yang berlanjut, namun paling tidak merupakan sinyal positif untuk pasar perumahan.

Apalagi, dia mengingatkan bahwa secara tahunan angka penjualan untuk triwulan IV/2015 itu masih lebih rendah 10,87 persen dibandingkan dengan triwulan yang sama pada tahun sebelumnya.

Selain itu, ujar dia, prediksi yang dilakukan oleh Indonesia Property Watch dengan analisis terhadap wilayah yang cukup berpotensi di wilayah Bekasi, terbukti naiknya tingkat penjualan di wilayah ini cukup signifikan mencapai 72,01 persen dibandingkan triwulan sebelumnya.

Sedangkan untuk wilayah di sekitar Jakarta lainnya seperti Bogor mencatat pertumbuhan 15,44 persen, lanjutnya, sedangkan Tangerang turun 8,52 persen. “Bekasi, Bogor, Depok diperkirakan akan memberikan kontribusi positif di tengah kenaikan harga yang sudah tinggi di wilayah Jakarta dan Tangerang,” katanya.

Ia juga mengingatkan bahwa proyek transportasi masssal publik seperti MRT dan LRT dinilai bakal membuat wilayah-wilayah tersebut memiliki nilai tambah.

Sebelumnya, konsultan properti internasional Jones Lang LaSalle (JLL) menyatakan tahun 2016 ini diperkirakan bakal merupakan kebangkitan optimisme bagi pelaku sektor properti, tetapi juga perlu disertai dengan tingkat kewaspadaan tinggi.

“Minat para klien investor dan penghuni kami tetap tinggi, dan kami memandang 2016 dengan penuh optimisme disertai kewaspadaan,” kata Country Head JLL Indonesia, Todd Lauchlan.

Menurut dia, tahun 2015 lalu untuk sektor properti di Indonesia dapat dinilai sebagai tahun yang penuh tantangan, antara lain karena pertumbuhan ekonomi berada dibawah perkiraan.

Selain itu, lanjut dia, faktor lainnya adalah pergerakan rupiah yang bersama dengan mata uang lainnya melemah secara signifikan terhadap dlar AS, dan rendahnya harga komoditas menimbulkan kekhawatiran di Jakarta.

“Akan tetapi, pada tahun yang akan datang permintaan akan meningkat bagi pasar perkantoran dan residensial sementara bagi sektor ritel, diperkirakan tetap stabil,” ucapnya.

BISNIS

properti.tempo.co