Indahnya Konsep Kota Batu

Big Banner

”An investment in knowledge pays the best interests” – Benjamin Franklin

JAKARTA – Dua minggu lalu, dalam road trip dari Banyuwangi menuju Jakarta, beruntung sekali saya bisa kembali singgah di Kota Batu, Jawa Timur. Seingat saya, terakhir kali saya datang adalah pada tahun 2008, untuk urusan pekerjaan.

Kota Batu terletak 90 km sebelah barat daya Surabaya dan 15 km sebelah barat laut Kota Malang. Berada di ketinggian antara 700-1.700 meter di atas permukaan laut, membuat kota ini mendapatkan bonus anugerah berupa suhu yang sangat sejuk di rata-rata 12-19 derajat Celcius setiap harinya (berbagai sumber).

Tak heran, kesejukan udara khas pegunungan membuat Kota Batu menjadi tujuan wisata pegunungan bagi banyak kalangan. Baik untuk tujuan wisata ataupun pekerjaan. Beberapa kali kedatangan saya pun memang bertujuan untuk business meeting, sehingga apa yang saya bisa gambarkan tentang kota ini adalah hanya terbatas di seputaran hotel, kantor, dan hotel lagi.

Tetapi kali ini, tujuan saya berbeda, murni untuk pleasure, office break. Meski hanya dua hari dua malam, besar harapan saya untuk bisa meng-explore kota ini dengan lebih seksama. Belakangan, nama Kota Batu seolah reborn, menjadi semakin hits di kalangan millenials melalui berbagi akun media sosial, terutama sejak kehadiran Jawa Timur Park.

[Baca Juga: Lokasi Rawan Gempa Yogyakarta Dijadikan Kawasan Geoheritage]

Saat mendengar namanya, yang terlintas di kepala saya adalah sebuah tempat semacam theme park, dan saya tidak pernah tertarik dengan yang namanya theme park. Tetapi, lagi, kali ini berbeda, saya sangat penasaran dengan apa yang tergambar di posting-an media sosial teman-teman saya tentang Museum Angkut, Secret Zoo, Museum Satwa, dan banyak tempat yang lain.

Apakah memang sehebat itu? Singkat cerita, pengalaman selama dua hari mengunjungi hampir semua tempat, membuat saya kagum, kagum, dan kagum. Penilaian saya itu tidak berdasarkan pengalaman tempat per tempat, tetapi merupakan penilaian terhadap ide dalam pembuatan konsep secara overall. Jarak dari satu atraksi ke atraksi lainnya tidaklah jauh, mungkin sekitar radius maksimal 3 km.

Jadi dengan keterbatasan waktu yang saya miliki, saya bisa menikmati banyak tempat. Belum lagi penilaian saya terhadap koleksi dan pengaturan di Museum Angkut, Secret Zoo, dan Museum Satwa, satu kata; amazing! Saya jadi makin pintar tiga kali lipat sejak pulang dari sana. Lain di Jakarta, kita punya Taman Mini Indonesia Indah.

Sebuah konsep yang juga luar biasa dari seorang Ibu Tien Soeharto, yang membawa besarnya negara ini ke dalam sebuah miniatur sebuah taman. Sehingga kita bisa memiliki gambaran tentang luas dan kayanya negeri kita Indonesia. Mungkin, pada banyak orang yang menganggap remeh dan bersikap apatis terhadap pembangunan tersebut, pantaslah seorang Ibu Negara bisa melakukan apa pun.

Tapi pernahkah kita sadari bahwa apa yang dipikirkan, dikonsep, dan dieksekusi menjadi sebuah komplek bangunan tersebut akan sangat berguna 10, 20, bahkan 100 tahun mendatang? Inilah yang disebut visi. Bukan melulu untuk masa itu, tetapi lebih panjang lagi, untuk anak cucu kita nanti.

[Baca Juga: Majukan Kota Padang, DPRD Diminta Lebih Berkontribusi]

Nah, untuk Kota Batu, tidaklah perlu saya mencari tahu siapa yang ada di balik semua itu, meskipun jujur saja saya penasaran. Akan tetapi, saya cuma bisa bilang, siapa pun Anda, apa yang telah Anda bangun, merupakan sebuah masterpiece, membuat saya sebagai anak bangsa ini bangga dan berdecak kagum tiada habisnya. Iya, saking bangganya, saya pamer. Dan mengajak semua orang untuk datang ke Kota Batu. Bermimpi, seandainya lebih banyak lagi kota dan daerah di Indonesia yang juga bisa memiliki tempat seperti ini.

Investasi di infrastructure seperti jalan dan jembatan memang penting, akan tetapi investasi di sesuatu yang penuh ilmu pengetahuan (knowledge investment) juga tak kalah pentingnya. Bahkan, akan lebih everlasting. Itu menurut saya.

(dhe)

property.okezone.com