Proyek Kereta Cepat Tidak Pengaruhi Tata Ruang Bandung Barat

Big Banner

BANDUNG – Pemkab Bandung Barat memastikan untuk konsep pengembangan kawasan di Cikalong Wetan tidak bersinggungan dengan proyek Kereta Api (KA) Cepat Jakarta-Bandung yang saat ini sedang dibangun.

Termasuk pengembangan kawasan persinggahan/transit oriented Development (TOD) juga tidak akan berdampak terhadap Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) di kawasan sekitaran Perkebunan Teh Mandalawangi, Maswati, di Kecamatan Cikalongwetan, Kabupaten Bandung Barat (KBB).  (Baca juga: Walini, Kota Kereta Cepat Libatkan Arsitek Kelas Dunia)

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) KBB Asep Sodikin mengatakan pengembangan Kota Walini sebetulnya sudah direncanakan sebelum adanya proyek KA Cepat Jakarta-Bandung. Rencana penataan Kota Walini sudah tercantum dalam RT/RW sebelumnya.

Dengan demikian, adanya rencana pembangunan Kereta Cepat tentu tambah memberikan dampak positif untuk pengembangan kawasan tersebut.

“Cikalong Wetan dan Cipeundeuy itu merupakan kawasan strategis yang memang sudah direncanakan akan dikembangkan sesuai RT/RW. Kebetulan memang ada proyek Kereta Cepat sehingga perlu bersinergi,” kata Asep.

Menurut Asep, selain pengembangan Kota Walini, di wilayah Cikalongwetan juga ke depan akan menjadi lokasi pariwisata, pendidikan dan juga akan dibangun Kampung Asia Afrika (KAA). Dengan hadirnya Kereta Cepat, semua pembangunan yang sudah direncanakan oleh pemerintah daerah akan semakin cepat terwujud.

“Di Cikalong Wetan rencananya akan jadi kawasan pendidikan seperti dibangun kampus ITB. Bahkan ada Kampung Asia Afrika. Itu juga sesuai keinginan pak bupati yang sudah disampaikan kepada Presiden Jokowi di Istana Bogor beberapa waktu lalu. Ditambah lagi nanti akan dibangun interchange atau Tol Gate Warung Domba yang bisa secepatnya dibangun,” tuturnya.

Diakuinya, terkait dengan trase Kereta Cepat, sepenuhnya merupakan kewenangan dari Kementerian Perhubungan. Sebab, kata dia, untuk jalur KA Cepat tidak seperti jalur kereta api biasa yang melalui jalur umum.(Baca juga: Proyek KA Cepat Harus Tumbuhkan Ekonomi Kawasan)

“Nantinya jalurnya itu berada di atas misalkan dengan ketinggian 20 meter, sehingga kegiatan di bawah tidak akan terganggu,” paparnya.

Disinggung apakah sejauh ini sudah berkoordinasi dengan PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) selaku pemegang kuasa pembangunan Kereta Cepat, diakuinya hanya satu kali melakukan rapat.

“Kita pernah rapat dengan kon sultan PT KCIC namun nanti akan dilakukan rapat lanjutan. Intinya sudah dibahas ke arah untuk pengembangan kawasan tersebut,” sambungnya.

Seperti diketahui, pembangunan KA Cepat Jakarta-Bandung telah diresmikan Presiden Joko Widodo pada 21 Januari 2016. Hal itu ditandai dengan groundbreaking di Perkebunan Mandalawangi Mas wati, Cikalongwetan, Kabupaten Bandung Barat. Anggaran untuk Kereta Cepat ini dibiayai secara mandiri oleh konsorsium BUMN Indonesia dan konsorsium China Railways dengan skema business to business.

Konsorsium BUMN tersebut antara lain PT Wijaya Karya (Persero), PT Jasa Marga (Persero), PT Kereta Api Indonesia (Persero), PT Perkebunan Nusantara (PTPN) VIII berkolaborasi dengan konsorsium China yang mendirikan perusahaan patungan dengan nama PT KCIC.

Pengoperasian kereta cepat ini membutuhkan pasokan listrik sekitar 75-100 megawatt. Untuk itu, rencananya KCIC bekerjasama dengan PT PLN (Persero) dan direncanakan dalam jangka panjang akan membangun power plant sendiri untuk memastikan tidak ada gangguan pasokan listrik saat kereta beroperasi.

property.okezone.com