NCICD, Proyek Prestisius Rp 500 Triliun di Pantura Jakarta  

Big Banner

Jika tidak ada aral melintang, dalam waktu 20 tahun mendatang, Indonesia akan memiliki sebuah proyek raksasa terpadu yang dikembangkan di atas laut bernama National Capital Integrated Coastal Development (NCICD) atau proyek konsorsium percepatan pembangunan terpadu di pesisir ibu kota Jakarta.

Majalah Properti Indonesia secara lengkap beberapa edisi yang lalu menurunkan liputan tentang pengembangan kawasan pesisir Jakarta. Proyek ini nantinya bakal merangkum sebuah mega kawasan mulai dari hunian tapak, apartemen, kantor, hotel, serta sebuah tanggul air laut raksasa dengan total lahan seluas 5100 Ha melalui pembangunan 17 pulau reklamasi.

NCICD merupakan penamaan terakhir dari proyek yang telah direncanakan sejak 1995 lalu. Dikenal lebih dulu dengan nama Jakarta Coastal Defence Strategies (JCDS), lalu Jakarta Coastal Development Strategies (JCDS) serta berganti menjadi Giant Sea Wall.

NCICD sengaja dirancang menyerupai sebuah tembok raksasa berbentuk lambang negara burung garuda dengan panjang total 32 Km, dimana 8 km diantaranya akan dikerjakan pemerintah dan 25 km dikerjakan swasta. Tembok ini diproyeksikan pilihan terbaik menghindari Jakarta tenggelam pada tahun 2050.

Adapun, latar belakang pengembangan proyek ini adalah sebagai solusi terbaik atau one stop solution untuk mengatasi berbagai soal di wilayah DKI Jakarta, seperti banjir rob, penurunan muka tanah, peningkatan muka air laut, kurangnya lahan perkotaan, kurangnya suplai air minum, dan persoalan pencemaran air di Teluk Jakarta.

Secara keseluruhan, proyek NCICD diprediksi akan menelan dana sekitar Rp500 triliun yang sebagian besar akan dikelola dan didanai pengembang dalam negeri, dengan masa pembangunan hingga 20 tahun ke depan atau selesai secara keseluruhan pada tahun 2034.

Pelaksanaan NCICD sendiri terbagi dalam tiga tahap, yaitu tipe A merupakan proyek reklamasi 17 pulau ditambah de ngan peninggian tanggul rob setinggi lima kilometer di bibir pantai utara sepanjang 63 kilometer. Kemudian tipe B, pembangunan konstruksi tanggul terluar dengan tembok bergambar garuda raksasa di laut dalam.

Sedangkan tipe C ialah pembangunan tahap besar tanggul raksasa (giant sea wall) sepanjang 33 kilometer serta pemba ngunan danau penyimpan dan pompa besar. Pembangunan tanggul berkapasitas 1,2 miliar kubik air ini ditaksir akan selesai dalam 8 tahun dan menyedot anggaran sebesar 600 triliun.

Dalam rancangan rencana tata ruang kawasan reklamasi yang telah disepakati, disebutkan, jika setiap pulau yang direklamasi wajib mengembangkan RTH seluas minimal 30% dan RTB seluas minimal 5% yang nantinya disesuaikan dengan kawasan lindung dan hutan bakau di pantai lama.

Termasuk, mewajibkan kepada pengembang untuk menyediakan kawasan pantai publik serta sistem dan jaringan utilitas yang dilaksanakan secara mandiri sehingga tidak membebani daratan. Pemerintah nantinya juga akan memberikan konsesi berupa hak guna bangunan (HGB) kepada pengembang untuk membangun kawasan permukiman dan komersial di atas lahan hasil reklamasi.

Status hak guna bangunan ini berlaku selama 30 tahun dan dapat diperpanjang hingga 20 tahun. Se dangkan pemerintah mendapat hak pe ngelolaan lahan (HPL). “Swasta dapat konsesi HGB, sedangkan HPL atas nama Pemprov DKI,” ujar Asisten Pembangunan Pemprov DKI Jakarta, Wiriyatmoko.

NCICD juga memiliki keunggulan karena akan terintegrasi dengan infrastruktur DKI seperti Jakarta Outer Ring Road (JORR) 1 maupun JORR 2, serta mass rapid transit (MRT) yang membentang dari Lebak Bulus ke Jakarta Kota (koridor utara-selatan).

Bahkan, MRT rencananya juga dibangun untuk koridor barat ke timur. Yang menarik, hasil studi kelayakan yang dilakukan tim peneliti asal Belanda justru merekomendasikan jika reklamasi lahan cukup seluas 1.250 hektar saja, atau lebih kecil dari keinginan pemerintah yang ingin mereklamasi lahan sampai 5000 hektar.

Riset yang berasal dari dana hibah Pemerintah Belanda tersebut beralasan, reklamasi yang sangat luas nantinya justru bakal menjatuhkan harga jual real estate yang ada di sekitarnya.

Sekedar informasi, Masterplan NCICD dikembangkan oleh konsorsium yang dipimpin oleh Witteveen + Bos (kontraktor asal Belanda) dan GRONTMIJ (Eropa), dengan subkonsultan KuiperCompagnons (kontraktor asal Belanda), Deltares, Ecorys dan Triple- A. Termasuk pembuatan konsep The Great Garuda yang diserahkan kepada KuiperCompagnons. (MPI/Riz).  Majalah Properti Indonesia versi digital juga dapat diakses melalui:http://www.wayang.co.id/index.php/majalah/properti-indonesia atau https://www.getscoop.com/id/majalah/properti-indonesia

mpi-update.com