Wisatawan Tidak Butuh Hutan Beton di Pulau Reklamasi

Big Banner

 

JAKARTA, KOMPAS.com – Di bidang pariwisata, Indonesia memiliki alam dan kuliner yang menjadi andalan. Hal ini menjadi faktor tumbuh kembang pariwisata yang meningkat 5 persen setiap bulan.

Ketika berbicara reklamasi, keindahan alam tidak lagi asli atau alami. Dengan demikian, bisa berdampak pada bidang pariwisata, khususnya di Bali.

“Wisatawan datang ke Indonesia tidak mencari gedung-gedung (beton), kecuali (wisatawan) di negara-negara tertentu,” ujar Ketua Umum Association of the Indonesia Tours and Travel Asnawi Bahar saat diskusi Perspektif Indonesia dengan topik “Masih Perlu Reklamasi?” di Jakarta, Sabtu (16/4/2015).

Menurut Asnawi, hanya wisatawan domestik yang memiliki kebiasaan untuk berwisata ke pusat perbelanjaan. Sementara wisatawan asing, lebih mencari keaslian, alam yang ramah, dan budaya.

Asnawi juga mengatakan, kegiatan turis asing sangat bergantung pada alam dan sangat jauh dari gedung-gedung. Sebaliknya, reklamasi justru memberikan ruang-ruang untuk pembangunan gedung.

Ia mencontohkan, Teluk Benoa yang terletak di selatan Bali. Reklamasi di daerah ini sebenarnya tidak terlalu mendesak.

“Di situ (selatan Bali), sudah padat. Padahal di timur dan utara masih terbuka,” jelas Aswan.

Ketika Indonesia sudah punya alam yang indah, kata dia, maka dibutuhkan sentuhan teknologi. Pasalnya, bangunan tinggi tidak akan datangkan wisatawan.

Hal ini terlihat dari kecenderungan wisatawan di Bali yang berjumlah 4 juta orang. Hampir seluruhnya datang ke Bali bukan untuk mencari gedung-gedung tinggi.

properti.kompas.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me