‘Green Building’ Harus Mengacu Pada 6 Aspek Ini

Big Banner

Green building atau bangunan hijau memang menjadi dasar dari bangunan ideal yang berkelanjutan. Tak sekadar hijau, tapi juga memerhatikan aspek sustainability, penghematan, perlindungan, serta kualitas dari awal perencanaan hingga bangunan tersebut berdiri.

Meski begitu, ternyata setiap negara memiliki fokusnya masing-masing mengenai apa itu green building. Fokus tersebut terkait dengan kebutuhan serta pengaplikasian yang sesuai dengan kondisi di mana daerah tersebut berada.

“Tiap negara memiliki concern yang berbeda-beda terkait green building. Untuk Indonesia, kita mengalami keterbatasan sumber daya listrik, jadi wajar bila sosialisasi mengenai penghematan listrik sering kita dengar,” ucap Anneke Andriana, desainer interior yang pernah menjabat sebagai Dewan Pembina HDII Jakarta periode 2013-2015.

BACA JUGA : TERNYATA KONSTRUKSI RUMAH ADAT LEBIH GREEN BUILDING

Meski begitu, kepada tim Rumahku.com ia melanjutkan bahwa setidaknya ada 6 fokus kriteria jika seseorang ingin menerapkan konsep green building, entah itu pada hunian, toko, ataupun kantornya.

Keenam fokus itu adalah site (peruntukan lahan), penghematan energi, penghematan air, penggunaan material yang ramah lingkungan, memerhatikan aspek kenyamanan untuk penghuni, dan yang terakhir adalah building management serta pengolahan sampah.

Jika keenam aspek tersebut diperhatikan, maka bangunan tersebut sudah dikatakan green building, walaupun pada atap atau dinding bangunan tidak memiliki embel-embel hijaunya.

“Sekarang kita masih menggunakan energi fosil, sumber daya alam yang tidak terbarukan. Jika habis, kita sendiri yang bakal kerepotan. Sekarang, konsumsi listrik perkantoran Jakarta rata-rata mencapai 250 kwh per meter per tahun, itu kan besar banget. Coba bandingkan dengan Singapura yang cuma 175 kwh per meter per tahun, jauh kan,” tukas Anneke.

rumahku.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me