Sembilan Bangunan Sarat Kontroversi Sepanjang Masa (II)

Big Banner
KOMPAS.com – Sebuah bangunan biasanya berdiri atas berbagai aspek. Ada banyak cerita atau kontroversi di balik setiap pembangunannya.
 
Kontroversinya pun bisa bermacam-macam tergantung situasi dan kondisi selama pembangunan berlangsung.
 
Salah satu gedung atau bangunan yang menjadi pembicaraan adalah Al-Wakrah Stadium di Doha, Qatar.
 
Stadion tersebut dibuat oleh mendiang Zaha Hadid untuk perhelatan Piala Dunia 2022 di Qatar.
 
Bangunan ini menjadi kontroversi ketika banyak pekerjanya tewas selama pembangunan berlangsung.
 
Al-Wakrah bukan satu-satunya bangunan yang menuai pro dan kontra. Berikut ini merupakan sembilan bangunan dengan kontroversi terbesar di dunia bagian kedua menurut ArchDaily.com:
 
 
5. The “Walkie Talkie” at 20 Fenchurch Street (London, Inggris)/Rafael Vinoly Architects
 
The Walkie Talkie menimbulkan banyak perdebatannya setelah desainnya dibenci banyak orang. Struktur lengkung besarnya seperti balon kelebihan udara yang mau meledak.
 
Gedung ini berada di utara Sungai Thames dan di luar klaster utama menara London. The Walkie Talkie telah menyebabkan beberapa insiden tahun lalu dengan menghancurkan banyak benda di permukaan tanah akibat refleksi sinar matahari dari bangunan tersebut.
 
financial times The Walkie Talkie, kini dijuluki “Walkie Scorchie”. Gedung ini akan dilapisi sebuah “cangkang” yang tidak akan memantulkan panas sinar matahari.

 
4. The Eiffel Tower (Paris, Prancis)/Gustave Eiffel
 
Menara terkenal ini berdiri bukannya tanpa kontroversi. Menara Eiffel mendapat kritik pedas dari berbagai kalangan di Paris.
 
Bangunan transparan ini hanya akan menghancurkan keeleganan rencana kota Haussmann di abad 19.
 
Atas dasar itu kemudian meluas kampanye anti-menara dan mengatakan Menara Eiffel sebagai ‘cerobong asap hitam raksasa’ dan ‘lampu jalan tragis.’
 
Kalimat sindiran menampilkan kepala insinyur sipil Paris, Gustave Eiffel di atas menara sebagai perwujudan dari apa yang diyakini menjadi kesalahan besar Kota Paris.
 
Meski begitu, Menara Eiffel kini menjadi ikon Paris dan telah dikunjungi hampir 250 juta orang sejak dibuka pertama kali pada 1889.
 
www.archdaily.com Menara Eiffel.

 
3. Sydney Opera House (Sydney, Australia)/Jorn Utzon
 
Ada cerita tentang kemarahan, pemecatan, penolakan, skandal, kelebihan dana di balik pembuatan Opera House Sydney ini. Pada 1957, Jorn Utzon dari Demark terpilih untuk merancang bangunan ini.
 
Desain Utzon sejatinya ditolak oleh komite pemilihan kompetisi, namun terselamatkan oleh juri dan arsitek Finlandia, Eero Saarinen.
 
Proyek pembangunan Opera House Sydney hanya diberikan dana sebesar 18 juta dollar Australia atau sekitar Rp 186 miliar lebih dan akan selesai dalam 18 bulan.
 
Akan tetapi, pembangunannya ternyata berjalan lambat dan melelahkan. Pada 1966, hampir 10 tahun dari pembangunan awal, pemerintahan baru New South Wales memberhentikan Utzon dari proyek dan mengakhiri gajinya serta membekukan semua biaya dalam proyek.
 
Posisi Utzon digantikan oleh arsitek Australia, Peter Hall yang memenangkan desain orisinal untuk Opera House Sydney. Peter menghabiskan dana sebesar 102 juta dollar Australia atau setara dengan Rp 1 triliun lebih. 
 
Peter menghabiskan waktu enam tahun, sementara proyek Opera House Sydney selesai dalam 16 tahun. Utzon pun tak pernah menyelesaikan bangunan ini tapi ia mendapatkan permintaan maaf formal dari Opera House pada 1999.
 
Shutterstock Sydney Opera House

 
2. Al-Wakrah Stadium (Doha, Qatar)/Zaha Hadid Architects
 
Al-Wakrah Stadium merupakan satu dari lima stadion yang akan dibangun untuk Piala Dunia Qatar 2022.
 
Kritik awal dimulai dari desain stadion, tapi sebelumnya bangunan ini telah terlebih dahulu menimbulkan kontroversi seputar kondisi kerja proyek.
 
Banyak pekerja migran terlibat dalam proyek ini. Lebih dari 1.000 pekerja dilaporkan tewas selama membangun fasilitas Piala Dunia ini.
 
FIFA selaku organisasi sepakbola dunia terus memonitor kondisi pembangunan stadion di Qatar. Sebelumnya banyak yang menentang Piala Dunia 2022 diselenggarakan di Qatar karena indikasi korupsi di dalamnya dan panasnya suhu di sana.
 
www.archdaily.com Al-Wakrah Stadium di Doha, Qatar. Stadion tersebut dibuat oleh Zaha Hadid untuk event Piala Dunia 2022 di Qatar.
Bangunan tersebut menjadi kontroversi ketika banyak pekerjanya tewas selama pembangunan berlangsung.

 
1. Pruitt-Igoe Housing Development (St. Louis, United States)/Minoru Yamasaki
 
Bangunan ini digambarkan sebagai ‘neraka bumi’ oleh salah satu penghuninya. Pruitt-Igoe adalah kegagalan paling terkenal dalam sejarah perumahan rakyat.
 
Pruitt-Igoe merupakan proyek perumahan terbesar di Amerika Serikat selama masa 1954-1972. Meski terbesar, perumahan ini tidak pernah sepenuhnya ditempati karena isu rasisme yang merajalela di Amerika Serikat kala itu.
 
Para kritikus kontemporer menuduh Pruitt-Igoe menjadi sebuah penjara dan menyebabkan masalah kesehatan mental bagi penduduk berpenghasilan rendah.
 
Atas dasar itu, kurang dari dua dekade setelah selesai dibangun, pembangunan dianggap tak layak huni dan secepatnya harus dikosongkan serta dihancurkan oleh pemerintah kota St.Louis.
 
Pruitt-Igoe pun akhirnya dihancurkan menggunakan peledak. Charles Jencks kemudian menyatakan hancurnya Pruitt-Igoe sebagai ‘kematian arsitektur modern.’
 
Kini, Pruitt-Igoe sering digunakan sebagai contoh untuk menghindari apa-apa yang dilarang dalam desain perkotaan. Selain itu Pruit-Igoe juga sering dianggap sebagai pelopor kejatuhan perumahan rakyat di St.Louis.
 
Pruitt-Igoe

properti.kompas.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me