Transaksi Penjualan Rumah Terus Menurun

Big Banner

Jakarta,SolusiProperti.com-Akibat merosotnya permintaan sebesar 1,3 persen, transaksi penjualan rumah di kawasan Jakarta, Depok, Bogor, Tangerang, dan Bekasi (Jadebotabek) pun ikut menurun.

Selama semester II-2015, transaksi penjualan yang terbukukan hanya senilai Rp 6,033 triliun. Tergelincir 0,01 persen dibandingkan pencapaian semester I-2015 yakni sebesar Rp 6,034 triliun.

Padahal pada periode yang sama tahun 2014, transaksi penjualan rumah masih bertengger di angka sekitar Rp 8 triliun.

Menurut hasil riset Cushman & Wakefield Indonesia pelaksanaan peraturan Bank Indoensia mengenai loan to value (LTV) yang baru diluncurkan, belum memberikan perbaikan yang signifikan terhadap tingkat serapan hunian.

Secara umum, rata-rata transaksi rumah pada semester II-2015 adalah sebesar 22 unit per bulan per perumahan, atau turun sebanyak 6 unit dibandingkan dengan semester sebelumnya.

Banyak konsumen yang menunjukkan sikap wait and see untuk membeli rumah karena melemahnya kondisi ekonomi secara keseluruhan.

Selain itu, adanya pengurangan pegawai di berbagai perusahan, khususnya di bidang minyak dan gas, juga turut memengaruhi keputusan konsumen untuk membeli rumah.

Akan tetapi, walaupun jumlah transaksi rumah mengalami sedikit penurunan, secara umum rata-rata nilai penjualan tetap stabil dengan jumlah yang sama pada semester sebelumnya.

Rata-rata nilai penjualan di Jabodetabek mencapai Rp 31,4 miliar per bulan per perumahan. Nilai penjualan per bulan tertinggi terjadi di Tangerang, yaitu sebesar Rp 57,3 miliar per bulan per perumahan.

Namun, peningkatan nilai penjualan terbesar terjadi di Bekasi yakni sebesar Rp 13,7 miliar menjadi Rp 31,5 miliar per bulan per perumahan.

Segmen menengah merupakan segmen yang paling diminati sebanyak 34,2 persen dari total transaksi yang terjadi, diikuti dengan segmen menengah-bawah sebesar 29,9 persen dari total transaksi.

Adapun rumah yang menjadi favorit para konsumen adalah yang dipasarkan dengan tawaran harga sekitar Rp 750 juta hingga Rp 1,6 miliar dengan ukuran bangunan 45-96 meter persegi, dan luas tanah 60-112 meter persegi.

Pasokan melambat

Tak hanya segmen permintaan yang melemah, tawaran pasokan pun melambat pada semester kedua tahun lalu. Ini disebabkan, beberapa pengembang cenderung menunda peluncuran klaster baru.

Jumlah pasokan baru semester II-2015 turun hampir setengah dari jumlah total pasokan baru pada semester sebelumnya, dari 6.178 unit menjadi 3.228 unit.

Sebagian besar pasokan berasal dari segmen bawah dan menengah. Distribusi pasokan terbesar terjadi di Kota Bogor, walaupun hanya berasal dari satu perumahan yaitu Citra Indah.

Dibandingkan dengan semester sebelumnya, perlambatan kenaikan harga juga terlihat pada semester II-2015. Rata-rata harga jual di Jabodetabek tumbuh tipis 4 persen, sedangkan semester I-2015 mencapai 7 persen. (YN)

 

solusiproperti.com