The Scene Tawarkan Keuntungan 10% per Tahun

Big Banner

Jakarta – Pasar kondominium hotel (kondotel) di Batam, Kepulauan Riau dinilai kian menggeliat. Permintaan mulai terasa dua tahun terakhir. Di tengah itu pengembang properti PT Trias Jaya Propertindo (TJP) menyodorkan kondotel The Scene yang dibanderol mulai Rp 1,5 miliar per unit.

The Scene yang terdiri atas tujuh blok itu berkapasitas 293 unit. Guna memikat konsumen, proyek kondotel yang berdiri di atas lahan 3 hektare (ha) itu menawarkan return on invesment (RoI) 10% untuk dua tahun pertama.

“Bisnis kondotel saat ini masih sedikit di Batam, tapi prospeknya cukup bagus. Karena itu, kami menggarap proyek The Scene senilai Rp 300 miliar,” kata Djaja Roeslim, presiden direktur PT Trias Jaya Propertindo (TJP) kepada wartawan di Batam, baru-baru ini.

Tawaran RoI itu, jelas Djaja, diharapkan mampu memikat calon konsumen dan itu terbukti cukup berhasil. Kini, ujarnya, kondotel tersebut telah terjual 30%. “RoI 10% per tahun dihitung setelah serah terima yang kami targetkan pada 2018,” kata dia.

Menurut dia, pihaknya membanderol tarif Rp 1,5 juta per malam untuk kondotel The Scene. Sedangkan tingkat hunian yang ditargetkan pada tahun pertama belum mencapai 60%. “Tapi memasuki tahun ketiga kami targetkan 60% dan tahun keempat berkisar 70-80%,” tutur Djaja.

Dia menambahkan, setelah dua tahun beroperasi, The Scene menawarkan konsep bagi hasil. Porsi bagi hasil itu terdiri atas 40% untuk investor dan 60% untuk pengelola. “Untuk mengelola The Scene kami menggandeng orang yang berpengalaman dari operator asing. Kami membangun perusahaan pengelola sendiri,” katanya.

 

Industri Pariwisata


Sementara itu, Djaja Roeslim menjelaskan, selain membangun kondotel, pihaknya juga menyediakan apartemen sewa (service apartment) bagi para investor. Untuk properti yang satu ini baru dipasarkan pada 2017.

“Harga yang kami tawarkan sekitar Rp 40 juta per meter persegi,” kata dia.

Untuk bisnis kondotel, tambah dia, akan terdongkrak oleh pariwisata Batam yang terus bertumbuh. Saat ini, provinsi tersebut memiliki sejumlah obyek pariwisata andalan yang memikat banyak wisatawan, termasuk wisatawan mancanegara.

“Sejak dicanangkannya Greater Batam oleh Presiden Joko Widodo yang mencakup Bintan dan sekitarnya, kami optimistis bisnis pariwisata Batam akan kian bertumbuh,” kata dia yang juga ketua umum Real Estat Indonesia (REI) Batam itu.

The Scene terletak di areal The Movie Town di kawasan Nongsa, Batam. The Movie Town adalah pusat pembuatan film internasional dengan luas sekitar 7 ha. Para pembeli kondotel dan service apartment di The Scene dapat melihat shooting film berkelas internasional yang dibesut oleh Infinite Studio. Sedangkan para awak film yang shooting di studio itu dapat menginap di kondotel.

“Kami bekerjasama dengan Infinite Studio dalam membangun The Scene. Kondotel kami dapat dijadikan tempat menginap para crew pembuat film, sedangkan para penghuni bisa menyaksikan bagaima proses membuat film berkelas internasional,” ujar Djaja Roeslim.

Menurut Mike Wiluan, chief executive officer (CEO) Infinite Studios, pihaknya ingin menangkap peluang di tengah kian besarnya biaya pembuatan film di Holywood. Kehadiran Movie Town bisa menyodorkan alternatif bagi para perusahaan untuk membuat film dengan biaya yang lebih murah dibandingkan di Holywood. The Movie Town merupakan konsep pertama di Indonesia dan Asia yang menggabungkan tempat tinggal, penginapan, dan lokasi pembuatan film.

“Kami ingin membangun pusat pembuatan film seperti di Hong Kong dan Busan, Korea. Movie Town dapat menjadi pusat industri kreatif,” ujarnya, di Batam, belum lama ini.

Djaja melihat, peluang bisnis properti yang besar juga ditunjang oleh pembangunan infrastruktur yang terus digalakkan untuk mengembangkan Batam. Pembangunan infrastruktur tersebut akan menjadi multiplier effect bagi sektor properti.

“Pengembang memiliki peluang untuk membangun kota-kota mandiri baru, proyek komersial seperti pusat perbelanjaan, hotel dan resort di Batam,” katanya.

Di sisi lain, kata Djaja, kehadiran regulasi baru tentang kepemilikan asing yang dikeluarkan 21 Maret 2016 akan ikut mendorong pertumbuhan properti di Batam. Regulasi itu adalah Peraturan Menteri (Permen) No 13 tahun 2016 tentang Tata Cara Pemberian Pelepasan Atau Pengalihan Hak Atas Pemilikan Rumah, Tempat Tinggal, Atau Hunian Oleh Orang Asing yang Berkedudukan di Indonesia. Aturan itu merupakan elaborasi dari Peraturan Pemerintah (PP) No 103 tahun 2015 Pemilikan Rumah Tempat Tinggal atau Hunian Oleh Orang Asing yang Berkedudukan di Indonesia.

“Tahun pertama para investor masih mempelajari aturan baru itu, tapi tahun-tahun selanjutnya akan melakukan aksi pembelian,” katanya.

Investor Daily

Edo Rusyanto/EDO

Investor Daily

beritasatu.com