Ongkos Konstruksi Stasiun WTC Dua Kali Lipat dari MRT Jakarta

Big Banner

NEW YORK, KOMPAS.com – The World Trade Center (WTC) Transit Hub alias The Oculus telah ditetapkan dalam sejarah sebagai stasiun kereta termahal di dunia. Total ongkos pembangunannya mencapai 4 miliar dollar Amerika Serikat (AS) atau setara Rp 52,3 triliun.

Jumlah itu sekitar dua kali lipat dari biaya seharusnya dan lebih mahal ketimbang gedung-gedung pencakar langit di sekitarnya. Namun, ada hal lainnya yang memungkinkan untuk memecahkan rekor, yakni nilai upah para arsiteknya.

Sebuah perusahaan konsultan realestat, The Real Deal, mencoba merinci biaya akhir pembangunan Stasiun WTC Hub tersebut. Dari upaya itu terungkap beberapa peningkatan bujet dan kebanyakan terjadi akibat seringnya perubahan rancang bangunnya.

The Real Deal kemudian menganggap itu sebagai hal yang wajar untuk proyek infrastruktur publik sebesar itu. Biaya lainnya adalah sebesar 355 juta dollar AS atau Rp 4,6 triliun untuk mengintegrasikan jalur subway dan 32,1 juta dollar AS atau sekitar Rp 421,9 miliar untuk skylight atau atap kaca stasiun.

Menurut The Real Deal, arsitek Santiago Calatrava dibayar 80 juta dollar AS atau senilai Rp 1,05 triliun untuk merancang Stasiun WTC Hub. Bayaran itu murni untuk dirinya, bukan untuk firma arsitekturnya.

Dian Ardiahanni/Kompas.com Suasana sepi di Proyek pembangunan Mass Rapid Transit (MRT) dekat Kejaksaan Agung, Jakarta Selatan pada Jumat (1/1/2016)

Secara total, rancangan tersebut menghabiskan biaya hingga 408,5 juta dollar AS atau ekuivalen Rp 5,37 triliun. Bayaran bagi Santiago merupakan bayaran terbesar di dunia yang pernah diterima oleh arsitek.

Bisa dikatakan, biaya pembangunan Stasiun WTC Hub hampir 2 kali lipat lebih besar dibandingkan dengan biaya pembangunan mass rapid transit (MRT) di Jakarta yang diperkirakan paling sedikit 1,7 miliar dollar AS atau sama dengan Rp 22,4 triliun.

Layaknya pembangunan MRT yang penuh kontroversi, pembangunan Stasiun WTC Hub juga tak lepas dari kontroversi akibat biayanya yang membengkak itu, meskipun saat ini statusnya sudah resmi dibuka bulan lalu.

Banyak kritikus di AS yang menanggap ongkos itu terlalu mahal, terutama dalam hal pembayaran arsiteknya yang mencapai lebih dari Rp 1 triliun.

properti.kompas.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me