Laba Lippo Cikarang Turun 19 Persen

Big Banner

Housing-Estate.com, Jakarta – PT Lippo Cikarang Tbk hingga 31 Maret 2016 mencatat pendapatan perusahaannya sebesar Rp546 miliar. Pencapaian ini menurun dibandingkan periode yang sama tahun lalu  sebesar Rp553 miliar. Sementara itu total aset tumbuh sebesar 1 persen menjadi Rp5,54 triliun dari tahun lalu Rp5,47 triliun.

PT Lippo Cikarang Tbk

PT Lippo Cikarang Tbk

Menurut Presiden Direktur Lippo Cikarang Toto Bartolomeus, selaku pengembang pihaknya belum terhindar dari perlemahan pasar properti yang tercermin dari pencapaian pada hasil kuartal pertama untuk development properti. “Untuk strategi kami pada tahun 2016 ini tetap meluncurkan rumah tinggal dengan segmen menengah dan menengah atas yang akan kami luncurkan di semester kedua,” ujarnya dalam siaran pers yang diterima housing-estate.com, Sabtu (30/4).

Secara umum, fokus pengembangan proyek Lippo Cikarang masih akan menggarap kawasan mixed use Orange County seluas 322 ha dengan total investasi mencapai Rp250 triliun. Proyek ini merupakan proyek berkesinambungan untuk pertumbuhan dan pendapatan jangka panjang Lippo Cikarang.

Selanjutnya, laba bruto Lippo Cikarang selama kuartal pertama tahun ini menurun sebesar 16 persen menjadi Rp280 miliar dari periode yang sama tahun lalu Rp333 miliar. Hal ini disebabkan karena penjualan lahan industri kerja sama operasi (KSO) di Delta Silicon 8 yang menghasilkan margin keuntungan lebih tipis. Laba bersih juga tercatat turun 19 persen sebesar Rp223 miliar dari periode lalu Rp275 miliar.

Sementara itu untuk porsi pendapatannya, dari hunian (rumah dan apartemen) tumbuh 7 persen menjadi Rp194 miliar dari sebelumnya Rp181 miliar atau menyumbang 35 persen dari total pendapatan. Dari divisi industri menyumbang Rp176 miliar (32 persen), pengelolaan kota naik 12 persen menjadi Rp50 miliar dari sebelumnya Rp45 miliar atau berkontribusi sebesar 9 persen dari total pendapatan. Untuk pendapatan berulang (recurring income) naik 9 persen menjadi Rp62 miliar dan memberikan kontribusi sebesar 11 persen dari total pendapatan.

“Kami melihat walaupun Bank Indonesia (BI) telah menurunkan suku bunga hingga tiga kali berturut-turut selain penguatan nilai mata uang rupiah, tapi secara umum konsumen masih melakukan aksi wait and see sebelum memutuskann membeli properti. Kami harap pemerintah bisa mengeluarkan kebijakan yang lebih menggairahkan pasar sehingga berdampak baik untuk seluruh industri,” pungkas Toto.

housing-estate.com