Tren E-Commerce Mengancam Mal

Big Banner

E-commerce tumbuh. Ada kekhawatiran keberadaannya akan mengencam pusat belanja. Untuk itu mal harus rekonsep dari pusat belanja menjadi lifestyle mall.

JAKARTA – Kemarin, Presiden Joko Widodo (Jokowi) membuka secara resmi penyelenggaraan Indonesia E-Commerce Summit & Expo (IESE) 2016 di Indonesia Convention Exhibition (ICE), Bumi Serpong Damai (BSD). Dalam kesempatan itu, Jokowi juga ikut khawatir jika perusahaan rintisan atau startup betul-betul diperhatikan dan diberi dorongan agar bisa meloncat ke level berikutnya, namun konsekuensinya adalah akan ada banyak pusat belanja (mal) fisik yang tutup. Benarkah demikian?

“Misalnya kalau kita belanja di rumah, siapa yang mau ke mal lagi? E-commerce diharapkan bisa digunakan untuk membantu petani, nelayan, usaha mikro di kampung-kampung, desa-desa, pelosok-pelosok,” ujar Jokowi.

Kekhawatiran ini bukan tanpa alasan. Karena kalau mengacu kepada hasil riset Colliers International Indonesia, banyak ruang kosong di pusat perbelanjaan di Jakarta. Jumlahnya sudah mencapai tiga setengah kali lipat luas Plaza Indonesia. Itu artinya terdapat 372.614 meter persegi yang tidak terisi atau terserap pasar.

Lalu berdasarkan data dari Bank Indonesia pada Agustus 2013 lalu, dari total pasokan pusat belanja seluas 557.690 meter persegi di provinsi Banten. Sebanyak 95,77 persen di antaranya berada di wilayah Tangerang Raya (Kota Tangerang, Kabupaten Tangerang, dan Tangerang Selatan). Sementara ruang-ruang kosong ini terdapat di mal kelas atas-atas (upper class). Untuk kelas atas luasnya mencapai 64.162 meter persegi, kelas menengah 157.613 meter persegi, dan kelas bawah 150.799 meter persegi.

Namun demikian kekhawatiran itu langsung ditepis oleh Associate Director Retail Service Colliers International Indonesia, Steve Sudijanto. Menurutnya, pusat belanja masih bisa bertahan. Terutama di kota-kota besar di Indonesia. Sebab mal masih menjadi tujuan hiburan keluarga. “Shopping mall masih menjadi tujuan belanja, meeting, hiburan, gaul, dan lain-lain. Karena sarana hiburan masih minim, dan belum selengkap Singapura atau kota dunia lainnya,” ujar Steve.

Sementara menurut Hendra Hartono selalu CEO Leads Property Indonesia, pusat belanja masih bisa bertahan. Hanya mal harus merubah konsepnya dari pusat belanja menjadi ke arah gaya hidup atau lifestyle mall. Jadi pusat-pusat belanja akan berubah menjadi hanya ruang pamer saja atau show room yang memamerkan produk terbaru dari para peritel. “Kalau pun ada produk elektronik dan gadget di mal, hanya berupa display. Demikian halnya dengan produk fashion,” ujar Hendra.

Menurut Kementerian Komunikasi dan Informatika, nilai industri e-Commerce  tahun ini diprediksi mencapai 24 miliar dollar AS dan bakal terus melonjak 130 miliar dollar AS hingga 2020 mendatang.  Asosiasi eCommerce Indonesia (idEA) juga memperkirakan pertumbuhan kelas menengah Indonesia akan meningkatkan jumlah online shoppers hingga 10 juta orang pada 2016 dengan transaksi hingga senilai Rp 20 triliun secara daring.

infonitas.com