Kota-Kota Eropa Paling Ideal untuk Tinggal dan Bekerja

Big Banner

KOMPAS.com – Baru-baru ini, Arcadis, sebuah firma desain dan konsultan untuk aset terbangun dan natural mengeluarkan laporan “Sustainable Cities Index 2015” atau Indeks Kota Berkelanjutan 2015.

Dikeluarkannya laporan ini tak terlepas dari kondisi kota-kota di dunia yang berkembang sangat cepat dan tak lagi sekadar menjadi tempat tinggal dan bekerja.

“Saat ini kota bukan hanya menjadi tempat tinggal dan bekerja, melainkan juga menjadi area keterlibatan emosi dengan berbagai macam kepribadian, tradisi, dan faktor ketertarikan lainnya,” kata Direktur Kota Global Arcadis, John J Batten, dalam laporan tersebut.

Tujuan dari laporan ini, lanjut John adalah untuk melihat 50 kota di dunia yang paling menjanjikan dan memberikan peluang terbaik untuk dijadikan tempat tinggal berdasarkan dampak lingkungan, stabilitas finansial, dan elemen lainnya yang saling melengkapi.

hotel concorde Frankfurt, Jerman.

Namun, yang paling penting menurut John, laporan ini bukan untuk menciptakan hirarki terhadap kota-kota elite di dunia. Tetapi untuk mengindikasikan area-area atau sektor apa saja yang bisa diperhatikan agar tujuan kota berkelanjutan bisa tercapai.

Indeks Kota Berkelanjutan Arcadis ini mengeksplorasi tiga permintaan terhadap People, Planet, dan Profit untuk mengembangkan sebuah peringkat indikatif terhadap 50 kota-kota di dunia.

Adapun sub indeks pengukuran People menilai infrastruktur transportasi, kesehatan, edukasi, ketidaksamaan pendapatan, keseimbangan kehidupan kerja, rasio ketergantungan dan
ruang hijau di dalam kota.

Indikator ini dapat secara luas dianggap sebagai upaya menangkap kualitas hidup untuk warga di kota masing-masing.

Sementara sub indeks Planet melihat pada konsumsi energi kota, pembagian energi terbarukan, siklus daur ulang, emisi gas rumah kaca, risiko bencana alam, ketersediaan air minum, sanitasi, dan tingkat polusi udara.

Sedangkan sub indeks Profit melihat performa kota dalam hal perspektif bisnis, penggabungan sistem transportasi, kemudahan melakukan bisnis, keterlibatan kota dalam jaringan ekonomi global, kepemilikan properti, biaya hidup, produk domestik bruto (PDB) per kapita, dan efisiensi energi.

KOMPAS/LUCKY PRANSISKA Melintasi kepadatan di Kota Amsterdam.

Dalam laporan tersebut, kota-kota di Eropa merajai semua peringkat di berbagai kategori penilaian. Secara keseseluruhan, Frankfurt di Jerman menduduki peringkat pertama, kemudian diikuti London di Inggris, Kopenhagen di Denmark, Amsterdam, dan Rotterdam di Belanda.

Sementara itu kota-kota di Asia paling banyak menunjukkan divergensi dengan Seoul, Hongkong, dan Singapura berada di 10 besar sedangkan Manila, Mumbai, Wuhan, dan New Delhi menjadi empat dari lima kota terbawah.

Beranjak ke Amerika Utara yang tidak menyumbang satu pun kota di 10 besar. Toronto di peringkat 12 jadi yang paling tinggi dengan diikuti Boston (15) dan Chicago (19) adalah kota paling berkelanjutan di Amerika Serikat.

Di Amerika Selatan, Santiago, ibu kota Chile berada di posisi 30 dan Sao Poulo di Brasil menempati posisi 31 secara overall. Keduanya menempati peringkat tertinggi kota berkelanjutan di Amerika Selatan.

Di Timur Tengah, ada Doha (Qatar) dan Dubai (Uni Emirat Arab) yang mencetak angka lebih tinggi pada sub indeks Profit ketimbang sub indeks Planet. Hal itu membuat mereka ada di empat terbawah kota berkelanjutan pada sub indeks planet.

properti.kompas.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me