Pertumbuhan Properti Diperkirakan Melambat Hingga Akhir 2014

Big Banner

(Berita Daerah – Nasional) Real Estate Indonesia (REI) memperkirakan pertumbuhan sektor properti di Indonesia masih akan mengalami perlambatan hingga akhir tahun 2014 ini dampak dari berbagai faktor seperti adanya tahun politik dan daya beli masyarakat yang masih melemah. Adanya agenda politik pada tahun ini menjadi pertimbangan yang mempengaruhi masyarakat dalam mengambil keputusan untuk membeli properti.

Wakil Sekretaris Jenderal DPP REI, Tomi Wistan di Medan pada hari Kamis (25/9) kemarin mengatakan jika pada tahun 2013 ke bawah sektor properti di dalam negeri dapat tumbuh mencapai diatas angka 10 persen, namun pada tahun ini diperkirakan tidak akan tumbuh sebesar itu. Pertumbuhan yang melemah itu sudah dapat terlihat sejak permulaan tahun dan diperkirakan masih akan melambat hingga akhir tahun 2014.

Melemahnya permintaan properti di dalam negeri terjadi di semua segmen, padahal biasanya permintaan properti di Indonesia sudah banyak mulai akhir Februari. Dengan kondisi seperti itu membuat para pengembang properti terus berupaya mencari cara guna meningkatkan penjualan yang diantaranya dilakukan dengan cara memberikan penawaran yang menarik seperti harga jual yang riil.

Namun begitu pada tahun 2015 mendatang, sektor properti diperkirakan akan kembali membaik dan bergairah seiring dengan semakin membaiknya kondisi perekonomian yang didorong dengan kesuksesan negara dalam melaksanakan pesta demokrasi pemilihan umum. Oleh karena itu diprediksi pada tahun 2015 akan mengalami peningkatan permintaan pada sektor properti.

Pada tahun 2015 juga pebisnis sektor properti dinilai akan lebih serius dan berani dalam menjalankan bisnisnya, dan didorong oleh sektor perbankan yang diyakini tidak akan ragu lagi dalam mengucurkan dana pinjaman seperti yang terjadi di tahun 2014. Melalui dukungan sektor perbankan akan membuat pengembang properti semakin mudah untuk menjalankan strategi bisnis mereka.

Dengan perkiraan pergerakan bisnis yang semakin baik tersebut dapat menimbulkan dampak yang negatif bagi penerapan aturan loan to payment (LTP) atau uang muka yang besar akan bisa ditekan atau kurang dirasakan konsumen pada tahun depan.

Dalam mendukung sektor properti menjadi lebih baik, maka pemerintahan baru mendatang diharapkan dapat memberikan dukungan besar seperti kemudahan dalam perizinan pembangunan dan usaha serta dapat menekan laju BI Rate yang bisa menekan kenaikan suku bunga KPR. Apabila suku bunga kredit bisa ditekan, maka dapat menahan laju inflasi sehingga daya beli masyarakat semakin membaik.

Pembangunan properti di Indonesia diharapkan dapat dilakukan secara menyeluruh sebagai upaya memenuhi kebutuhan dasar masyarakat untuk memiliki tempat tinggal. Pembangunan rumah bersubsidi juga harus dapat ditingkatkan terutama di luar Pulau Jawa sebagai antisipasi meningkatnya jumlah masyarakat kalangan kelas menengah seiring dengan pertumbuhan perekonomian nasional.

Akbar Buwono/Regional Analyst at Vibiz Research/VM/BD
Editor : Eni Ariyanti
image: ant

beritadaerah.co.id

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me