Apartemen Bersubsidi Terkoneksi “LRT” Hanya Rp 198 Juta

Big Banner

DEPOK, KOMPAS.com – Konsep pengembangan transit oriented development (TOD) yang mengintegrasikan properti hunian dan komersial dengan transportasi publik adalah pilihan masa depan dan paling rasional yang dapat dibangun pengembang.

Melonjaknya jumlah populasi dan migrasi urban yang mendorong pertumbuhan permintaan hunian tidak bisa hanya diakomodasi oleh pengembangan berkonsep tapak yang justru akan menggerus ketersediaan lahan dan optimalisasinya.

Jika hal ini terus berlanjut, beban kawasan akan semakin berat. Hasilnya adalah intensitas mobilitas yang kian hari semakin tinggi. Di sisi lain, daya dukung dan kondisi infrastruktur terbatas, sehingga beban angkutan tak dapat dikendalikan. 

Contoh kasus dari pengembangan kawasan berbasis hunian tapak yang dilakukan secara sporadis adalah di sepanjang jalur Transyogie, Cibubur-Cileungsi. 

Ketika puluhan proyek besar skala kota berisi ribuan unit rumah tapak memenuhi ruas jalan yang hanya sepanjang 6 kilometer tersebut, yang terjadi adalah demonstrasi antrian kendaraan panjang.

Kemacetan tak hanya terjadi pada jam kerja melainkan setiap waktu selama tujuh hari dalam seminggu. Terlebih pada saat akhir pekan, berbagi ruang di jalan Transyogie sama halnya dengan menguji kesabaran.

Karena itulah konsep pengembangan TOD dipilih dan dianggap lebih ideal. Selain karena efisiensi pemanfaatan lahan, juga bisa memaksimalkan alokasi ruang terbuka hijau (RTH).

Sementara di sisi lain, TOD juga menawarkan kepraktisan gaya hidup, efisiensi waktu, dan potensi pertumbuhan ekonomi.

Kehadiran Podomoro Golf View, salah satu dari konsep TOD yang sedang direalisasikan selain megaproyek Grand Dhika City Bekasi garapan PT Adhi Persada Properti, adalah untuk mengurai masalah yang dihadapi kawasan Cibubur-Cileungsi.

Megaproyek yang pembangunan tahap awalnya ini menelan dana Rp 1 triliun, terkoneksi dengan stasiun hub light rail transit (LRT) trase Bogor-Cibubur-Cawang. Selain juga terkoneksi dengan akses Tol Cimanggis-Cibitung, dan Tol Jagorawi.

Podomoro Golf View diklaim sebagai jawaban bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) yang tak mampu membeli rumah tapak, namun ingin tinggal di Cibubur, dan sekitarnya.

Harga yang dipatok Rp 9,4 juta per meter persegi atau Rp 198 juta untuk unit tipe studio ukuran 21 meter persegi.

KOMPAS/HENDRA A SETYAWAN Presiden Joko Widodo saat peletakan batu pertama proyek sistem transportasi kereta ringan (light rail transit/LRT) Jabodetabek di kawasan Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta, Rabu (9/9/2015).

MBR bisa mengakses apartemen ini dengan memanfaatkan subsidi dari pemerintah melalui skema Fasilitas Likuiditas Pembiayaan perumahan (FLPP). 

Director PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN) Paul Christian menjelaskan, Podomoro Golf View memang didedikasikan untuk MBR. Mereka dimudahkan untuk dapat membeli dan memiliki rumah layak huni.

Kendati murah, namun dilengkapi berbagai fasilitas penunjang dengan kualitas dan penataan yang lebih baik dibanding properti sekelas sebelumnya yang dikembangkan APLN yakni Kalibata City, Green Bay Pluit, dan Gading Nias Residence.

“Kami menjawab kebutuhan kalangan menengah ke bawah dengan konsep penembangan terintgrasi LRT yang akan beroperasi tahun 2018,” sebut Paul usai prosesi seremoni peletakan batu pertama Podomoro Golf View, Minggu (5/6/2016).

Podomoro Golf View dibangun di atas lahan 60 hektar yang terdiri dari 37.000 unit dalam 25 menara. Hingga akhir Mei 2018 telah terjual 80 persen dari total 4.000 unit tahap perdana.

Bekasi

Konsep TOD sejatinya telah domulai oleh PT Adhi Karya Tbk melalui anak usaha PT Adhi Persada Properti (APP). Mereka membesut pengembangan Grand Dhika City di Bekasi, Jawa Barat. 

Proyek ini terkoneksi langsung dengan moda transportasi berbasis LRT  trase Cawang-Bekasi.

Hilda B Alexander/Kompas.com Progres pembangunan Light Rail Transit (LRT) atau kereta ringan Tahap 1 Cibubur-Cawang sudah sampai pada pemancangan pilar-pilar, Selasa (22/12/2015).

Grand Dhika City menempati area seluas total 10 hektar di Jl Joyomaryono, Bekasi Timur. Di dalamnya terdapat 11 bangunan tinggi yakni apartemen, apartemen servis, hotel dan perkantoran yang dilengkapi dengan pusat belanja, ballroom, dan ruko.

Konsep pengembangan terpadu dalam kerangka TOD sangat strategis dari segi investasi. Harga awal unit Grand Dhika City (Cempaka Tower) Rp 275 juta untuk tipe studio, saat ini sudah menembus angka Rp 400 juta.

Selain, tentu saja, mendukung gaya hidup praktis dan modern penghuninya. Penghuni dapat memarkir kendaraannya di dalam fasilitas park and ride. Selain itu, terdapat pula stabbing area sebagai ‘hanggar’ untuk unit-unit LRT trase Cawang-Bekasi.

 

properti.kompas.com