Sektor Ritel Indonesia Lebih Baik Dibanding Singapura

Big Banner

JAKARTA, KOMPAS.com – Pasar ritel Indonesia menempati peringkat lima dunia versi Global Retail Development Index (GRDI) 2016 rilisan AT Kearney. Posisi tersebut mengalahkan “raja” ritel Singapura yang sama sekali tak masuk dalam daftar.

Meski berada di peringkat lima besar, sektor ritel domestik justru tengah mengalami penurunan seiring perlambatan ekonomi yang terjadi saat ini.

“Ya Indonesia memang peringkat lima tapi sebetulnya dari segi jumlah ada penurunan dibanding tahun lalu. Kita tetap ada di lima besar ya itu karena negara lain turunnya lebih jelek dari kita, termasuk Singapura,” jelas Ketua Dewan Penasihat Himpunan Penyewa Pusat Belanja Indonesia (Hippindo), Handaka Santosa, di Hotel Kempinski, Jakarta, Rabu (8/6/2016).

Kondisi pasar ritel Singapura saat ini memang tengah terpuruk setelah beberapa pengecer di pusat-pusat belanja Orchard Road hengkang satu per satu akibat sepinya pengunjung.

Baca: Sepi Pengunjung, Orchard Road Bukan Lagi Surga Belanja

Pada dasarnya, menurut Handaka, pasar ritel di seluruh dunia memang tengah dalam kondisi menurun, namun Indonesia menjadi salah satu negara yang penurunannya masih dalam taraf wajar.

“Nah ini yang harus kita jaga karena ekonomi kita sekarang 60 persen dipegang konsumsi domestik dan 40 persen sisanya investasi. Nanti ritel rumbuh bagus jika pertumbuhan ekonomi 10 persen pada 2017-2018,” tambah dia.

www.skyscrapercity.com Lotte Shopping Avenue menawarkan kebaruan dalam desain dan konsep, sehingga memenangkan perhatian publik Jakarta.

Indonesia, khususnya Jakarta, kini telah menjadi salah satu ladang investasi pengusaha global. Raksasa-raksasa properti macam Hongkong Land, AEON Group, Toyota Group, dan Crown Group telah lama memosisikan Indonesia dalam radar investasi mereka.

Associate Director Retail Service Colliers International Indonesia Steve Sudijanto mengatakan bahwa perlu ada strategi lebih kreatif dalam hal mendatangkan dan memadupadankan para peritel yang paling diminati masyarakat.

Selain itu, secara fisik, bangunan pusat belanja juga harus terus-menerus diperbarui (refurbishment) agar menarik minat kunjungan.

“Untuk terus menjaga sektor ritel di sini kita perlu berusaha lagi memberikan kenyamanan dalam berbelanja, dan menambah pengalaman. Dukungan sarana serta prasarana dari pemerintah juga harus ada supaya orang kita nggak terus belanja di luar negeri,” pungkas Handaka.

properti.kompas.com