REI harap revisi aturan asing sebelum FIABCI

Big Banner

BANDUNG (Bisnis.com): Dewan Pengurus Pusat Real Estat Indonesia (REI) mengharapkan revisi aturan kepemilikan rumah tempat tinggal oleh orang asing selesai sebelum Kongres Dunia Federasi Real Estat Internasional (FIABCI) 24-28 Mei 2010.

Ketua Umum DPP REI Teguh Satria mengatakan ajang FIABCI di Nusa Dua Bali bisa menjadi momen yang sangat tepat bagi pengembang nasional untuk memromosikan produknya.

“Selain pengembang internasional, pada kongres itu juga akan dihadiri banyak broker-broker perumahan dari berbagai belahan dunia,” katanya, Senin.

Dia mengemukakan aturan perpanjangan hak pakai oleh asing menjadi setidaknya 70 tahun akan membuat pasar properti nasional menjadi lebih kompetitif.

Menurut dia, harga properti di Indonesia juga masih jauh lebih murah dibandingkan dengan properti di luar negeri.
“Kalau beli satu apartemen di Singapura, harganya sama dengan membeli 11 apartemen di Jakarta,” katanya.

Dia mengemukakan aturan kepemilikan asing terhadap rumah yang lebih kompetitif juga bisa menjadi peluang bagi pemerintah memperbesar penyediaan dana murah untuk fasilitas likuiditas perumahan bagi masyarakat.

Dia mencontohkan, apabila pengembang nasional bisa menjual 10.000 unit apartemen seharga US$250.000 per unit dalam satu tahun kepada orang asing, potensi pendapatan negara bisa mencapai Rp5 triliun bila total pajak yang dikenakan mencapai 20%.

“Pajaknya bisa berasal dari berbagai jenis, misalnya PPh, PPh TB atau PPN BM, atau pajak-pajak khusus bagi pembelian properti oleh asing,” katanya.

Dia mengatakan aturan baru kepemilikan asing terhadap properti tetap harus memiliki batasan-batasan tertentu, misalnya hanya boleh di apartemen, harga minimal per unit, dan kepemilikan asing maksimal 49% dalam satu tower.

Hal itu, katanya, tidak akan mengganggu akses warga negara Indonesia untuk memiliki rumah karena segmen pasarnya juga sangat berbeda.

“Apalagi kalau secara konkret kepemilikan asing bisa memberi manfaat terhadap program perumahan rakyat tentu tidak ada yang perlu dikhawatirkan,” katanya.

Ketua REI Jawa Barat Hari Raharta mengatakan beberapa kota di provinsi ini yang potensial menggarap pasar properti untuk orang asing, adalah Bekasi, Karawang, Bandung, dan Cirebon.

Menurut Hari, semakin banyak industri yang memperkerjakan orang asing, maka potensi penjualan properti untuk segmen ini juga semakin besar.

“Kepemilikan asing juga berpotensi mempercepat pengembangan ekonomi sebuah kawasan karena orang asing itu tentu akan mengeluarkan uang untuk berbagai keperluan, seperti belanja sehari-hari dan kebutuhan pembantu rumah tangga,” katanya.

ciputraentrepreneurship.com