Bandung 1 dari 10 Kota Potensial Tujuan Investasi

Big Banner

Majalah Properti Indonesia (MPI) edisi Juli 2016 menurunkan laporan utama tentang 10 kota potensial tujuan investasi. Salah satunya adalah Bandung. Disebutkan, bahwa Kota Bandung sudah sejak dulu menjadi lokasi favorit untuk berwisata, belajar dan tempat tinggal.

Selain lokasinya yang hanya selangkah dari Jakarta, aura keteduhan Bandung secara tak langsung mampu mensugesti para pengunjungnya untuk betah berlama-lama tinggal di kota yang bergelar Paris van Java ini.

Berawal dari kunjungan, lantas ingin bertempat tinggal. Kondisi inilah yang membuat permintaan tingkat kebutuhan hunian di Bandung semakin tinggi, khususnya dari warga yang berasal dari luar kota, seperti Jakarta dan sekitarnya. Apalagi, paska dioperasikannya Tol Cipularang yang menghubungkan Bandung dan Jakarta sehingga dapat memangkas jarak tempuh kedua kota tersebut secara signifikan.

Hal ini pula yang membuat potensi dan prospek sektor properti, khususnya, hunian baik landed maupun highrise di Bandung terus berkembang pesat. Tak hanya itu, geliat industri kreatif seperti fashion, desain, IT dan kuliner di kota kembang juga menjadi faktor penting yang berdampak positif bagi pertumbuhan ekonomi di Kota Bandung sehingga memunculkan masyarakat kelas menengah baru dengan jumlah signifikan. Tak hanya pasar primer saja yang bergeliat, untuk pasar sekunder pertumbuhannya juga terus meningkat.

Survei periodik BI beberapa waktu lalu menyebutkan, harga rumah dan tanah di pasar sekunder Ban dung tercatat meningkat sepanjang triwulan I-2016 lalu. Dibanding triwulan sebelumnya, sub sektor tersebut naik dari 0,07% (qtq) menjadi 0,41% (qtq) yang terjadi di semua tipe bangunan.

Berdasarkan wilayah, kenaikan harga rumah terutama terjadi di Bandung Pusat (0,97%,qtq) didorong oleh berkembangnya proyek-proyek komersial mewah di sekitar gedung sate dan tingginya harga bangunan yang bernilai sejarah di wilayah tersebut. Selain Bandung Pusat, kenaikan harga yang cukup tinggi juga terjadi di Bandung Selatan terkait dengan rencana pembangunan jalan tol Soreang –Pasir Koja (Soroja) dan kehadiran proyek properti skala besar seperti Summarecon Bandung.

Hasil survey yang dilakukan situs properti UrbanIndo.com menyebutkan, bahwa sejak lima tahun terakhir investasi properti di Kota Ban dung masih di didominasi oleh beberapa kawasan seperti Buah Batu, Arcamanik, Lengkong, Coblong, Sukasari, Antapani, Mandalajati dan Cime nyan. Namun, untuk beberapa tahun ke depan, kom posisi sebaran wilayah investasi properti tersebut diproyeksi akan berubah seiring kebijakan Pemerintah Kota Bandung yang akan mengembangkan Bandung Teknopolis di kawasan Gedebage.

Bandung Teknopolis sendiri merupakan sebuah komplek bisnis terpadu (CBD) atau central business district yang berbasis teknologi komunikasi dan informasi mirip Silicon Valley di Amerika Serikat. Proyek ini diperkirakan menelan investasi sekitar Rp 100 Triliun.  Konsep Teknopolis jauh lebih besar dan komprehnsif dibanding sebuah technopark.

Kelak, proyek ini diproyeksikan  dapat menampung 80-an ribu penduduk baru dan menghasilkan 400-an ribu lowongan pekerjaan baru dari perusahaan global. Bandung Techopolis seluas 800 ha tersebut juga direncanakan sebagai white collar city, yaitu pusat riset dan perusahaan global yang mencakup bisnis digital media, biopolis, kreatif, dan science, yang bukan berbentuk pabrik ataupun laboratorium. (Riz). Versi digital MPI dapat diakses melalui http://www.wayang.co.id/index.php/majalah/properti-indonesia atau https://www.getscoop.com/id/majalah/properti-indonesia

mpi-update.com