Komposisi Ekspatriat di Simatupang Target Pengembang

Big Banner

Selain Cikarang koridor Simatupang, di Jakarta Selatan adalah kawasan yang banyak didiami ekspatriat Jepang. Associate Director Colliers International Indonesia, Ferry Salanto mengatakan, koridor Simatupang dan sekitarnya, ekspatriat asal Jepang dan Korea Selatan mendominasi

Komposisi mereka sebanyak masing- masing 37%. Disusul ekspatriat asal India 16%, Eropa dan Amerika Serikat 6%, dan Asia Tenggara 4%.”Mereka mendiami apartemen-apartemen eksisting yang berjumlah sekitar 2.700 unit. Jumlah ini terus bertambah hingga 2020 lebih dari 7.500 unit,” kata Ferry.

Seperti ditulis Majalah Properti Indonesia (MPI) edisi Juli 2016,  saat ini pengembang asal Jepang PT Tokyu Land Indonesia sedang membangun apartemen Branz Simatupang di atas lahan seluas 15.000 m2 dengan total luas bangunan 81.000 m2. Ada dua bangunan utama dengan jumlah total apartemen sebanyak 381 unit. Harga jualnya dipatok Rp40 juta per m2. Pilihan unit yang tersedia yakni tipe 3 kamar tidur seluas 149 m2 dan 2 kamar tidur seluas 122 m2 ”Kami perkirakan, orang Jepang akan menjadi penghuni apartemen ini sebanyak 50%,” ujar Tai Horikawa Direktur PT Tokyu Land Indonesia.

Horikawa juga mengatakan, lokasi Branz Simatupang sangat strategis untuk ekspatriat dari Jepang dan negara lainnya. Kawasan ini memiliki akses transportasi yang mudah untuk menuju tempat kerja, sekolah, atau hiburan. Branz Simatupang juga adalah pengembangan pertama antara Tokyu Community Corporation dan Obayashi Corporation.

Sementara Mustika Golf Residence yang pengembangannya menelan investasi Rp300 miliar mengusung konsep “Unique Premium Serviced Apartement” dengan pengelolaan layanannya dilakukan oleh PT Marimo Indonesia asal Jepang. Selain itu, kata David, juga dilengkapi sejumlah fasilitas yang akan membuat betah para ekspatriat Jepang yang menghuninya.

Selain keamanan 24 jam, convenience store, ATM, infi nity pool, hydroteraphy, fi tness center dan full fi ber optic infrastructure dengan akses internet sampai 100 Mbps, Mustika Golf Residence juga dilengkapi ”ofuro” atau bak di dalam kamar mandi, juga ”sento” yang merupakan tempat pemandian umum terletak di lantai 2 berdampingan dengan gym dan kolam renang.

Serta sky garden di lantai paling atas yang menerapkan konsep “Zen” dengan view langsung ke lapangan golf yang berada tepat di depannya. “Buat kami karakteristik konsumen Jepang itu unik, karena bagi mereka kemewahan bukanlah hal yang utama tapi lebih mencari kualitas.

Hal yang sama dilakukan Selaras Holding yang menyiapkan konsep Jepang premium di proyek Grande Valore Condominium  karena selera standarisasi kualitas dan pelayan Jepang sangat baik dan tinggi yang sudah diakui oleh dunia.

”Biasanya jika ekspatriat Jepang nyaman, maka ekspatriat Amerika dan Eropa pasti akan suka, karena sudah menyadari dan mengakui standar kualitas Jepang yang memang tinggi,” ujar Edhijanto seraya mengatakan ekspatriat Jepang sangat teliti, cerewet, dan juga selektif jika sudah menyangkut hunian yang akan mereka pilih untuk ditinggali.

Menggaet konsumen asal Jepang, kata Edhi, diperlukan strategi dan upaya khusus, untuk tidak dikatakan spesifik mengikuti selera dan kemauan mereka. Kalau pun produk properti yang dibangun sudah memenuhi standar dan kualitas, belum tentu dapat memenuhi selera dan ekspektasi mereka jika layanan dan pengelolaannya asal-asalan. ”Orang Jepang memang menomorsatukan kualitas dalam segala hal, terutama kualitas bangunan, kualitas layan an dan pengelolaan, kualitas keamanan dan kenyamanan,” kata Edhijanto.

Namun, lanjut Edhijanto, itu saja tidak cukup. Mereka sangat concern terhadap privasi, kesamaan gaya hidup dalam sebuah komunitas, selera, dan perlakuan istimewa dalam mengembangkan kawasan dengan atmosfer gaya hidup ala Jepang (japanese style). ”Jika kita memenuhi semua itu, akan mudah bagi kita untuk menawarkan produk lainnya. Karena mereka sudah memiliki catatan, reputasi, dan rekam jejak kita,” tambah Edhijanto.

Menghadirkan semua itu, aku Edhijanto, sejatinya tidak sulit. Setia pada komitmen adalah hal terpenting. Lalu lengkapi apartemen dengan taman-taman atau putting green dan sentra komunitas untuk para penghuni beraktivitas. Lebih spesifik lagi, bangun fasilitas berbau Jepang seperti hakone daiyokujyo, spa, karaoke, restoran, jacuzzi, dan fasilitas kesehatan.

”Untuk fasilitas unit pun, macam bak rendam (bath tub) harus standar Jepang, yakni bak dengan kedalaman tertentu, bukan bak ceper,” sebut Edhijanto. Strategi beri kutnya dan tak kalah penting adalah memilih brand pengelola. Di Indonesia, kata Edhi, Jepang identik dengan InterContinental Hotels Group (IHG).

Nama ini adalah jaminan mutu. Untuk menggandeng IHG sebagai operator properti tidak mudah. IHG, nilai Edhi, sangat eksklusif dan jadi yang terbaik di dunia hospitalitas internasional. Untuk riset kawasan saja mereka mengharuskan calon mitranya melakukannya satu hingga dua tahun. ”Belum lagi riset pasar, demografi, dan kelayakan finansial, itu harus betul-betul dilakukan secara presisi dan tepat.  Demikian halnya dengan properti yang menyasar ekspatriat Jepang,” kata Edhijanto. MPI YS  MPI edisi digital dapat diakses melalui https://www.getscoop.com/id/majalah/properti-indonesia atau http://www.wayang.co.id/index.php/majalah/properti-indonesia

mpi-update.com