Ini Perusahaan yang Kembangkan Silicon Valley Ala Indonesia

Big Banner

Sentul City salah satu prusahaan yang serius mengembangkan  Silicon valley ala Indonesia bekerjasama Group 70 perusahaan arsitek dan desainer nomor satu di Hawaii. Ia punya lebih dari 30 LEED Aps atau leadership in energy and environtmental design accredited professionals.

Dengan kerjasama ini konsep pengembangan Sentul City mencakup masterplan dan proyek-proyek di dalamnya seperti superblok, resort, perkantoran, sekolah, akan lebih berkelanjutan. Sementara Francis S. Oda, Ketua Group 70 International mengatakan, perusahaannya sangat antusias untuk melakukan ekspansi di Indonesia dan bermitra dengan pengembang seperti Sentul City, yang memiliki komitmen yang sama untuk menciptakan nilai melalui branding dan desain yang inovatif.

“Visi kami memberikan layanan tingkat tinggi bagi partner lokal kami dengan kualitas desain internasional, yang mencerminkan budaya lokal, sense of place, dan desain yang berkelanjutan,” kata Francis. Steven mengungkapkan, terdapat dua perusahaan asing yang serius untuk ikut menggarap Sentul City Tech Center yang berasal dari Jepang, dan Singapura. Dari Jepang merupakan perusahaan yang kerap melakukan riset teknologi, sementara dari Singapura merupakan konglomerasi yang juga bergerak di bidang teknologi.

“Mereka serius dan kami tengah melakukan pembicaraan tahap awal,” ungkap Steven seraya mengatakan perusahaan Korea Selatan dan Amerika Serikat juga sudah melakukan korespondensi terkait konsep pengembangan Sentul City Tech Center.

Pengembang lain yang juga seiurs mengembangkan integrated smart digital city Sinar Mas Land (SML) juga serius mengembangkan BSD City di kawasan Serpong, Tangerang Selatan, sebagai kota pintar berbasis digital yang terintegrasi.

Untuk itu, SML mengarahkan BSD City memiliki area seperti di Silicon Valley. Chief Technology Offi cer SML, Irvan Yasni, menjelaskan, area ini nantinya akan dibuat sangat mirip dengan Silicon Valley di Amerika Serikat. Area ini juga akan dilengkapi beragam  infrastruktur, fasilitas, dan prasarana terbaik untuk menunjang proses operasi setiap perusahaan di dalamnya.

’’Langkah mewujudkan area semacam Silicon Valley di BSD City akan semakin mudah bila kota mandiri seluas 6.000 hektar ini telah berhasil dikembangkan menjadi integrated smart digital city dengan beragam keunggulan teknologi,’’ kata Irvan. Lebih lanjut ia menerangkan, BSD City dari sisi infrastuktur telah dilengkapi koneksi fiber untuk mendukung akses internet dan kecepatan pengiriman data, high resiliencies fi ber backbone, keterbukaan akses untuk fleksibilitas, hingga kesiapan pelayanan cloud kelas dunia.

”Apabila membicarakan smart city, maka cakupannya adalah seluruh area BSD City. Akan tetapi, untuk area Silicon Valley, kami baru mencoba mengarah ke sana,’’ ucap Irvan. Menurut Irvan, konsep Silicon Valley yang dikembangkan SML di BSD City, tidak seperti di Amerika Serikat.

Sebab, sifatnya bisa jadi lebih terpusat atau terdistribusi. ’’Plan Allocation pasti di area business district yang tersambung dari CBD 1 di timur, hingga ke arah Barat,’’ ujarnya. Sebagai tahap awal SML menghadirkan aplikasi mobile terintegrasi yang dapat diakses oleh seluruh warga BSD City. La yanan tersebut akan menciptakan ekosistem digital untuk meladeni talent sources & development, start up companies, dan technology leader untuk informasi, telekomunikasi, e-commerce, logistik, dan industri kreatif.

“Kami melakukan implementasi pelayanan information communication technology (ICT) karena sudah menjadi kebutuhan utama masyarakat dan komunitas di berbagai belahan dunia,” ujar Irvan. Jaringan digital terintegrasi ini dapat dimanfaatkan untuk mengakses fasilitas kesehatan, transportasi, hiburan, memesan kudapan, dan kebutuhan lainnya.

Hal ini akan membuat kota lebih efisien, perjalanan dan penggunaan transportasi semakin berkurang. Irvan mengatakan IT menjadi salah satu kunci sukses kota masa depan khususnya untuk meningkatkan kualitas hidup dan lingkungan. Untuk mengembangkan system ini SML menyiapkan Infrastrukturny a sejak tahun 2014 dengan pemasangan fi ber optic.

“Fase pertama yang kami lakukan membuat beberapa mobile apps dengan menggandeng PT Kresna Graha Investama Tbk. untuk membantu mempermudah kehidupan warga BSD City. Ada juga aplikasi yang ditujukan untuk community services seperti surveillance camera untuk keamanan dan traffi c,” imbuhnya.

Siapkan investasi Rp30 triliun Pengembang properti asal Australia, Crown Group, milik salah satu putra bangsa Iwan Sunito pun brencana membangun Silicon Valley di Indonesia. Kata Iwan, perusahaan sudah memiliki lahan sekitar 10 hektar dan masih akan terus membidik lagi lahan untuk merealisasikan megaproyek tersebut.

Bahkan, perusahaan memperkirakan proyek Sillicon Valley tersebut akan menelan investasi hingga Rp30 triliun. Rencananya properti yang dikembangkan tersebut bakal mengusung konsep  terintegrasi (mixed use) yang terdiri dari apartemen atau residensial, pusat perbelanjaan,  pendidikan, dan hospitality treatment.

Crown Group akan mengusung tiga konsep alam, yakni terdapat sebuah ngarai, pantai, dan sky garden.“Era diigital terus berkembang pesat, ini peluang yang tepat untuk membangun Silicon Valley di Indonesia. Proyek ini bisa berjalan tujuh sampai 10 tahun,” ujarnya. Iwan menjelaskan, rencana pengembangan properti di Indonesia merupakan salah satu langkah persiapan Crown untuk go public yang direncanakan berlangsung pada 2018 – 2019. MPI YS versi digital MPI dapat diakses melalui http://www.wayang.co.id/index.php/majalah/properti-indonesia atau https://www.getscoop.com/id/majalah/properti-indonesia

mpi-update.com