Persembahan Khusus untuk Entrepreneur Generasi Y

Big Banner

Mungkin ada sebagian dari Anda yang bertanya-tanya apakah itu generasi Y? Ada begitu banyak definis yang menerangkan apa arti istilah ini namun pada dasarnya ‘generasi Y’ merujuk kepada sebuah generasi yang lahir di antara tahun 1970-an dan awal 2000-an. Generasi Y juga kadang disebut sebagai Millenials atau Echo Boomers (Wikipedia). Jika istilah ‘baby boomers’ sudah begitu familiar, maka ‘echo boomers’ dapat diartikan sebagai keturunan dari generasi baby boomers. Secara garis besar, generasi Y berkarakteristik berbeda dari baby boomers. Mereka lebih akrab dengan penggunaan teknologi komunikasi, media, dan digital.

Scott Gerber, seorang entrepreneur generasi Y, menulis sebuah buku bertajuk “Never Get a Real Job: How to Dump Your Boss, Build a Business and Not Go Broke”. Gerber mengajar di Ohio Northern University College of Law.

Buku ini dianggap sebagai sebuah perwujudan dari perlawanan terhadap asumsi klasik bahwa pekerjaan yang ‘sungguh-sungguh’ adalah pekerjaan kantoran yang dilakukan dari pukul 9 pagi hingga 5 sore. Jadi jika Anda adalah seorang seorang karyawan dengan pekerjaan yang monoton dan sehari-hari hanya berkutat di meja kerja Anda namun tidak cukup berani melangkah keluar kantor untuk mengundurkan diri, maka keputusan untuk membaca buku ini tentunya tepat. Tepat? Karena nasihat-nasihat dari Gerber akan memotivasi Anda untuk menjalankan usaha sendiri dan menjadi majikan Anda sendiri. Gerber juga seorang entrepreneur yang mendirikan dan mengelola beberapa bisnis, jadi Anda tidak perlu khawatir akan tingkat kredibilitasnya sebagai mentor. Setelah membaca, kemungkinan  besar Anda akan termotivasi untuk mengambil kendali atas kehidupan, ketakutan dan karir Anda sekarang.

Buku ini ditulis sebagian besar dengan berdasarkan pada pengalaman empiris yang dialami sendiri oleh penulis. Dan tanpa merasa malu-malu, Gerber memaparkan segala jatuh bangun yang ia alami sebagai seorang entrepreneur yang memulai usaha. Gerber dalam buku ini sering sekali menyebutkan perusahaannya sebagai contoh, namun tidak secara gamblang menyebutkan namanya. Ia menggunakan beberapa contoh nyata yang cerdas dan menggelikan. Dan justru kemampuannya untuk menertawakan diri sendiri di depan pembacanya inilah yang membuat gaya bertutur Gerber menjadi unik dan otentik.

Gerber mengajarkan kepada pembacanya layaknya ia bercerita kepada dirinya sendiri, karena faktanya Gerber juga menjadi bagian dari generasi Y. Di bagian awal buku, Gerber berceloteh tentang bagaimana malasnya ia sebagai seorang pekerja. dan gaya bercerita Gerber sangat konversasional, layaknya gaya berbicara yang tercermin dari penggunaan kata-katanya yang kasual ,bahkan bagi sebagian, cenderung kasar. Di sepanjang tulisannya, Gerber terus menerus menekankan betapa buruknya bekerja dan menjadi pegawai untuk orang lain.

Meskipun begitu blak-blakan, Gerber juga dengan sukarela membagikan beberapa tipsnya yang ia pandang vital bagi calon entrepreneur gen Y di luar sana yang masih takut-takut untuk terjun dalam entrepreneurship:

1. Manfaatkan teknologi untuk menjadi efisien
Gerber memberikan sebuah daftar situs yang ia anggap akan mebuat kita dapat bekerja lebih efisien karena memungkinkan kita membuatnya melakukan pekerjaan untuk kita dengan biaya yang lebih rendah dari melakukannya sendiri.
2. Pilih mitra dengan seksama
Memilih mitra usaha yang tepat sangat vital bagi perkembangan bisnis di masa datang. Gerber dalam bukunya memberikan saran tentang bagaimana memilih mitra ideal bagi bisnis Anda.
3. Berhematlah
Di fase-fase awal perkembangan usaha, Gerber menyarankan kita untuk berhemat dengan membeli dan menggunakan barang-barang bekas yang masih layak pakai.
4. Singkirkan business plan yang rumit
Gerber memilih untuk menjadi entrepreneur anti business plan yang terlalu mendetil karena ia memandang business plan sebagai sebuah rencana yang tertuang secara ringkas dan spesifik bukan umum dan melebar ke mana-mana.
5. Sesumbarlah sedikit
Tentu bukan sesumbar secara negatif, yaitu berbohong agar orang percaya kita lebih dari yang sebenarnya. Namun, kita harus mengetahui cara yang tepat untuk menonjolkan kelebihan kita sebagai seorang entrepreneur dan profesional sehingga kita tidak terkesan berjuang seorang diri di awal perkembangan  usaha. Misalnya dengan memilih nama usaha yang mencerminkan kesan ‘besar’ daripada kesan ‘kecil’ seperti dalam kasus “Katering Wijaya” versus “Katering Bu Nani Wijaya”. Tentu Anda bisa rasakan perbedaannya bukan?

Kesimpulan yang diberikan Gerber di akhir bukunya terasa kuat dengan judul bab-nya yang membuat bergidik setiap entrepreneur; “Be Afraid, Be Very Afraid”. Tanpa bermaksud membuat kita takut, Gerber mencoba untuk membuat kita tersadar dari ‘pembiusan’ terhadap mental entrepreneur kita. Ia juga menekankan betapa menakutkannya jika kita membuka mata di suatu pagi di usia 50 tahun dan menyadari bahwa karir kita hanyalah setumpuk tenggat waktu yang harus dipenuhi dari hari ke hari.

ciputraentrepreneurship.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me